TVRI Papua Terancam Dilaporkan ke KPI dan Dewan Pers

Caption : Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo. Foto : ISt/PapuaSatu.com)

JAYAPURA, PapuaSatu.com –  Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo bakal melaporkan TVRI Papua ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers.

TVRI Papua dinilai telah menyalahi aturan penyiaran karena menghadirkan Asisten I Pemerintah Provinsi Papua sebagai Narasumber, yang mengatasnamakan penjabat Sementara Bupati Jayawijaya.

Bahkan, diduga dalam dialog tersebut ada konspirasi antara TVRI Papua dan Doren wakerkwa selaku ASN yang juga sebagai Asisten I Sekda Provinsi Papua sebagai Narasumber dengan menyudutkan Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo pada kepemimpinan selama 10 tahun.

John Wempi Wetipo mempertanyakan kapasitas Doren Wakerkwa sebagai mantan Pjs Bupati dalam dialog tersebut. Sebab jika menyebutkan bahwa Dia (Doren Wakerkwa) sebagai penjabat sementara Bupati Jayawijaya sudah berakhir pada tanggal 23 Juni 2018.

Sementara dialog yang disiarkan TVRI itu berlangsung tanggal, 24 Juni 2018. “Ini kan sudah menyalahi aturan,” kata Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo kepada wartawan usai memimpin Apel perdana setelah cuti kampanye sebagai calon Gubernur Papua 2018, Senin (25/6/2018).

JWW panggilan akrabnya ini mengatakan, dalam dialog yang dilakukan di TVRI Papua pada Minggu (24/6) sekitar pukul 19.00-20.00 WIT dengan judul “Menyimak Pemerintahan di Kabupaten Jayawijaya di Massa Transisi” bersama Doren Wakerwa yang diberi kepercayaan menjabat Pjs Bupati Jayawijaya selama 4 bulan.

“ Itu seakan-akan menilai kalau pelaksanaan pemerintahan di kabupaten Jayawijaya selama ini banyak kekurangan. Pernyataan itu hanya untuk menjatuhkan saya yang bersatus sebagai calon Gubernur Papua 2018–2023”.

“ Apa yang disampaikan Doren Wakerkwa dalam dialog itu sebagai pembunuhan karakter saya sebagai calon gubernur. Jadi dia (Doren Wakerkwa) dalam dialog itu seakan berbicara sebagai tim sukses dari salah satu calon Gubernur lain,” ujarnya.

Doren Wakerwa seharusnya menempatkan dirinya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), yang bersikap netral dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. “Dia (Doren Wakerkwa) kecendruangan seperti tim sukses. Jadi kulitnya saja ASN, tetapi hatinya tidak ASN,” paparnya.

Bahkan lanjut JWW, Doren Wakerwa seharusnya tidak pantas mengoreksi massa kepemimpinannya sebagai Bupati Jayawijaya bersama Wakil Bupati John R Banua selama kurang lebih 10 tahun, apalagi Doren wakerkwa hanya sebagai Pjs. Bupati.

“Kehadirannya di sini, harusnya menjalankan pemerintahan untuk mengisi kekosongan, lantaran saya bersama Wakil Bupati tengah cuti. Bukan mengoreksi kepemimpinan kami, seakan-akan kami berdua meninggalkan kesan yang tidak baik dalam memimpin di Kabupaten Jayawijaya,” pungkasnya.

Seharusnya, lanjut JWW, Doren Wakerwa harus mengakui apa yang sudah diperbuatan selama selama 10 tahun membangun Kabupaten Jayawijaya.  “Kalau seperti dalam dialognya, seakan-akan dia lebih sukses selama 4 bulan memimpin daerah ini. Memangnya membangun pemerintahan itu ada yang dilakukan secara instan. Seharusnya dengan jabatannya sebagai Asissten I di Provinsi Papua, jauh lebih memahami tentang pemerintahan,” sambungnya.

Oleh karena itu, selain melalporkan TVRI Papua, pihaknya juga melaporkan stasius TVRI ke KPI. “Pemda , Jayawijaya akan melayangkan surat keberatan kepada Kantor TVRI Papua, TVRI pusat dan Dewan Pers, yang dinilai menyalahi aturan dalam menayangkan sebuah dialog, bahkan tak berimbang,” tukasnya.

Tambahnya, pihaknya telah meminta kepada asissten I Pemda Jayawijaya untuk membuat surat keberatan kepada TVRI.  Selain surat keberatan, reporter yang terlibat dalam dialog bersama Doren Wakerwa juga akan diikut sertakan dalam surat keberatan itu.

“Sangat saya sayangkan kinerja reporter yang terlibat dialog itu. Padahal ia sebagai reporter tau perbuatannya telah melanggar kode etik. Harusnya bisa memilah dialog seperti apa yang harus tayang. Tapi saya pikir dia telah larut dalam situasi itu. Nanti surat keberatan saya terhadapnya juga akan dilayangkan,” tutupnya.

Sementara itu, kepala Seksi Pemberitaan TVRI Papua, Asmet Takalumang sat dikonfirmasi melalui telephone selulernya, mengakui adanya dialog TVRI Papua yang melibat Narasumber Doren Wakerkwa.

Namun ia meluruskan bahwa Dialog bersama Doren Wakerkwa dilaksanakan di akhir massa jabatannya sebagai Penjabat Sementara pada tanggal, 23 Juni  2018 lalu di Wamena. Sedangkan untuk penyiaran baru dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2018.

“Dialog itu kan di Wamena, bukan di Jayapura. Intinya, Dia (Doren Wakerkwa) mengucapkan terimakasih kepada semua pihak di kabupaten Jayawijaya yang sudah mendukung sejak menjalankan pemerintah disana. Jadi disitu tidak ada bahasa yang seakan-akan menyudutkan kandindat lain. Bahasanya hanya  membicarakinerjanya selama empat bulan tidak ada yang lain,” katanya.

Hanya saja, lanjut Asmet,  dalam dialog itu, pernyataan Doren Wakerkwa selaku mantan Psj Bupati Jayawijaya ada beberapa hal yang harus dibenahi  oleh bupati terpilih ke depan Mantan. “Kemudian disitu mengajak ASN untuk menjaga netralitas pad apilkada. Pada kapasitasnya  juga ingin daerah Jayawijaya aman dan kondusif dengan menghindari miras,” paparnya.

Disamping itu, tambah Asme, pernyataan Doren dalam dialog mengajak pihaknya untuk bekerjasama dengan pemerintah dan Forkopimda untuk mensukseskan pemilukada di kabupaten Jayawijaya. “Jadi kita tidak bicara bahasa yang menjatuhkan satu sama lain,” tukasnya.

Namun apabila TVRI dilaporkan ataupun melayang surat keberatan, Asmet mengaku siap untuk memberikan penjelasan secara detail dengan dibuktikan penjelasan hasil dialog yang sudah dilakukan pada 23, Juni 2018 lalu tersebut. “Kami juga siap menunjukan kepada KPI jika dilaporkan,” tukasnya. [Jp/loy]