Nilai tukar petani di Provinsi Papua naik 0,56 Persen

0
266
Caption : Kepala Bidang Statistik Distribusi, Bambang Wahyu Ponco Aji, SST, M.Si dan Kepala Badan Pusat Statistik Kota Jayapura, Simon Sapary saat menggelar Press Realese, Jumat (1/3/2019).
Caption : Kepala Bidang Statistik Distribusi, Bambang Wahyu Ponco Aji, SST, M.Si dan Kepala Badan Pusat Statistik Kota Jayapura, Simon Sapary saat menggelar Press Realese, Jumat (1/3/2019).

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Papua naik sebesar 0,56 persen yakni 90,87 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi, Bambang Wahyu Ponc Aji, SST, M.Si mengatakan kenaikan tersebut terjadi karena adanya perubahan indeks. “Harga yang diterima oleh petani lebih besar daripada indeks harga yang dibayar oleh petani,” katanya saat Press Release , Jumat (1/3/2019).

Beberapa subsektor yang mengalami kenaikan selama bulan Februari 2019 yakni tanaman pangan , tanaman perkebunan rakyat serta peternakan. “Kalau tanaman pangan didorong oleh naiknya indeks kelompok palawija sebesar 2,11 persen,”ujar Bambang.

Dikatakannya, naiknya indeks peternakan didorong oleh kelompok ternak kecil, unggas serta ternak besar. “Ternak kecil sebesar 1,93 persen, unggas sebesar 0,64 dan ternak besar 0,83 ,”tambahnya.

Namun ada beberapa subsektor yang mengalami penurunan dalam bula Februari 2019 yakni holtikultura serta perikanan. “Holtikultura mengalami penurunan sebesar -1,82 persen dan perikanan sebesar -0,53 persen,”ucapnya.

Bambang juga mengungkapkan selama bulan Februari 2019 di Papua mengalami deflasi perdesaan sebesar -0,19 persen. “Bahan makanan turun 0,49 persen dan sandang turun 0,25 persen”ungkapnya.

“Makanan jadi, minuman, rokok, tembakau naik 0,15 persen, perumahan naik 0,01 persen, kesehatan naik 0,19 persen, pendidikan, rekreasi serta olahraha naik 0,10 persen dan transportasi juga komunikasi naik 0,20 persen,”tambah Bambang.

Dirinya menuturkan menurut data BPS, perekonomian di Papua sudah mulai stabil karena sudah mulai timbul deflasi dan NTP di Papua naik. “Selama sebulan mengalami deflasi, namun kedepannya belum bisa diprediksi karena ini hanya perbandingan dalam 1 bulan terakhir,” tuturnya. [ayu]