Telkomsel Hadir di Daerah 3T Demi Bangun Daerah dan Demi Kedaulatan NKRI

aktifitas vedeo call oleh warga dari salah satu lokasi wisata di Kabupaten Jayapura

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Pemerataan pembangunan ke daerah-daerah Terpencil, Terdepan dan Terluar (3T) yang menjadi salah satu program pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, semakin dirasakan kehadirannya oleh masyarakat kampung-kampung.

Salah satunya adalah akses komunikasi, tidak saja komunikasi verbal (voice) dan teks (SMS), tapi komunikasi multimedia menggunakan media internet sudah semakin dirasakan kehadirannya di berbagai daerah 3T tersebut.

Hal itu seperti di Papua, yang dibanding dengan daerah lain di Indonesia, daerahnya dapat dikatakan paling banyak yang masih menyandang 3T tersebut.

Jaringan komunikasi berbasis seluler, terutama dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, yakni PT Telkomsel, kini hadir di hamper semua kabupaten/kota  di Papua, dan melayani hingga perkampungan yang dari sisi jumlah penduduknya tergolong sangat sedikit yang menggunakan telepon genggam atau hand phone.

Namun, demi komitmen untuk membangun daerah dan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), PT. Telkomsel terus mengembangkan jaringannya, dengan mengesampingkan sisi bisnisnya.

Hal itu sebagaimana diungkapkan Novrizal Syahrul, Manager RAM Telkomsel Regional Papua Maluku bersama Erlyawan Budiman, Manager Network Service Telkomsel Jayapura, saat ditemui PapuaSatu.com di Kantor Grapari Telkomsel Jayapura, Rabu (31/10/2018).

“Secara bisnis, kalau mau hitung-hitungan bisnis sebenarnya tidak balik modal. Kami masih komitmen, karena memang lebih ke mengembangkan potensi daerah, dan menjaga kedaulatan NKRI,” ungkapnya.

Dijelaskan, bahwa ada tiga alasan Telkomsel dalam mengembangkan jaringan, yaitu bisnis, mengembangkan daerah dan menjaga kedaulatan NKRI.

Sedangkan dalam mengembangkan jaringan di daerah Tertinggal, Terdepan Dan Terluar (3T), menurut Erlyawan, kalau dilihat operasional secara over all, baik dari maintenance, dari infrastrukturnya, dan lain-lainnya, sama sekali tidak bisa masuk hitungan secara bisnis.

Disingung apakah ada subsidi dari pemerintah sebagaimana bahan bakar minyak yang dikelola Pertamina yang juga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), meski perusahaan induk PT Telkomsel adalah PT Telkom yang juga BUMN, namun sama sekali tidak ada subsidi dari pemerintah.

“Kalau subsidi pemerintah tidak ada. Sistemnya kita memang secara nasional dan secara regional,” jelasnya.

Data terakhir, bahwa PT Telkomsel  dalam melayani kebutuhan telekomunikasi di  29 kabupaten/kota se Provinsi Papua, dan ada lima kabupaten yang  belum terlayani oleh jaringan 3G ataupun 4G dan baru terbatas jaringan  2G,  yakni Dogiyai, Lanny Jaya, Memberamo Tengah, Puncak dan Intan Jaya.

Sedangkan untuk Base Transceiver Station (BTS) atau tower pemancar signal jaringan yang sudah 3G ada 2299 BTS,  dan yang sudah 4G ada 831 BTS.

Namun demikian, meski sudah menggunakan jaringan 4G, untuk wilayah pegunungan, seperti di Kota Wamena yang sudah terpasang sekitar 20 BTS 4G, namun user experience pelanggan dalam mengakses internet, tetap berbeda kecepatannya dibanding dengan daerah Kota Jayapura dan sekitarnya ataupun daerah lain yang telah tersambung oleh jaringan kabel serat optic yang juga dikenal Sulawesi Maluku Papua Cable Sistem (SMPCS).

Tower yang dibangun Pemerintah Kabupaten Jayapura di Kampung Yokiwa, yang operasionalnya dilakukan dengan formulasi kerja sama antara PT Telkomsel dengan pemerintah atau Bisnis To Gofernance (B to G). (foto : Ahmad Jainuri/PapuaSatu.com)

Pasalnya, untuk proses transfer datanya masih menggunakan satelit dengan kapasitas yang terbatas dan biaya yang mahal.

“Satelit itu kondisinya bandwidth-nya tidak besar, investasinya mahal. Itu kenapa saat ini di daerah pegunungan yang masih teknologinya selulernya belum seperti di kota-kota, yaitu masih 2G,” jelasnya lagi.

“Satu-satunya kota di pegunungan tengah Papua yang sudah banyak terpasang jaringan 4 G adalah Kota Wamena. Cuman  karena kendala traffic keluarnya dari Wamena-nya enggak begitu besar, sehinga user eksperiencenya tidak bisa sama dengan di Jayapura,” lanjutnya.

Disingung tentang upaya penambahan jaringan dengan pendirian Tower BTS baru, saat ini sesuai Peraturan Bersama Mendagri, Menteri PU, Menkominfo dan Kepala BKPM, yang mulai berlaku pada aret 2009, operator seluler tidak boleh mendirikan tower sendiri.

Karena itu, untuk menambah jaringan, selain menyewa pada pihak ketiga (konsorsium), PT Telkomsel juga menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, terutama untuk daerah-daerah Terpencil, Terdepan dan Terluar (3T).

Selain itu, juga ada jaringan yang  mengunakan sistem USO (Universal Service Obligation), yang merupakan program Kemekominfo, melalui  Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) , yang sebelumnya bernama BP3TI, yang murni dikelola oleh pemerintah.

“Jadi memang daerah-daerah terpencil, terdepan dan terluar, dari sisi Telkomsel atau operator lain tidak bisa masuk, itu dimasukin oleh pemerintah,” jelasnya.

Novrizal Syahrul mengungkapkan, dalam upaya membangun di Papua, memiliki tantangan yang tinggi.

“Saya hampir dua tahun di sini, di Papua ini memang sangat challenging (sangat menantang),” ungkapnya.

Tantanagn yang pertama, menurutnya adalah terkait dengan mobilisasi orang.

“Baru mobilisasi orang saja, kita pernah ke Ilaga. Jalurnya dari Jayapura ke Nabire, setelah Nabire baru ke Ilaga. Itu cost-nya bisa bolak-balik Jayapura-Jakarta. Itu satu kali jalan,” ceritanya.

Diceritakan juga, saat berupaya membangun jaringan di daerah Lanny Jaya, untuk membawa material ke lokasi harus menyewa pesawat sampai 84 trip.

“Jadi bisa dibayangkan bagaimana challenging-nya  kita membangun di daerah Papua, terutama di daerah pegunungan tengah,” ungkapnya.

Berikutnya adalah dari sisi lahan, yang akhirnya disadari tidak bisa  bergerak sendiri. Sehinga manajemen PT Telkomsel membangun komunikasi  (relationship) dengan Pemda-Pemda, terutama dengan Kemenkominfo.

Sehingga bila perusahaan memiliki planning (perencanaan) di suatu tempat atau di suatu daerah, pemerintah daerah setempat bisa membantu dari sisi perijinan, terutama terkait pembebasan lahan.

“Karena ada bebera BTS kita sudah operasional, nggak taunya dipalang. Padahal secara manfaat itu untuk masyarakat di sana juga kan,” jelasnya.

Berbagai tantangan lain dalam upaya membangun trasmisi dan pengembangan jaringan di Papua, yakni bandwidth-nya yang terbatas karena masih menggunakan satelit, sehinga user experience-nya berbeda jauh dengan di daerah yang mengunakan kabel optik.

Dicontohkannya, di Mamberamo, Yahukimo, atau Wamena,  di hand phone bisa dapat jaringan 4G. Tapi secara experience, 4G di tiga kota itu tidak bisa bidandingkan dengan 4G-nya di Jayapura.

“Ya memang membangun di Papua ini sangat challenging. Akhirnya dengan tekad dan semangat, kalau dari sisi bisnisnya, ini bisa dilihat take off investment-nya ini berapa cepat,”  ungkapnya.

“Akhirnya pertimbangan tadi, untuk memberikan manfaat dan turut menjaga kedaulatan, kita tetap terus membangun,” sambungnya.

Sehingga, untuk kelancaran pelayanan terhadap masyarakat di 3T, terutama di Pegunungan Tengah Papua, PT Telkomsel memberi formulasi berupa kerja sama dengan pemerintah  atau Bisnis To Gofernance (B to G).

“Sudah ada beberapa kabupaten yang memang kita secara jaringan dan layanan kita sudah deliver. Seperti Mamberamo Raya dan Yahukimo. Jadi bagaimana di daerah-daerah pegunungan, yang baru 2G ini bisa kita tingkatkan dari sisi jaringan, setidak-tidaknya mereka bisa dapat akses jaringan data,” ujarnya.

Dan kepada konsumen pun, manajemen Telkomsel harus memberikan pemahaman, agar jangan menuntut untuk user experience-nya disamakan dengan di Jayapura.

“Jadinya mereka bisa buka internet, mereka bias facebook, mereka bia chatting via WA (Whatsapp), dan tu sudah kami lakukan,” ungkapya lagi.

Dengan demikian, masyarakat bisa terbuka dari sisi pengetahuannya, dan  dari sisi perekonomian bisa terdorong untuk tidak berputar di satu tempat saja, namun bias keluar daerah melalui media internet yang ada.

Mulyati, adalah salah satu warga yang merasakan manfaat kehadiran Telkomsel di daerah 3T, yakni saat ia berwisata ke wisata Kali Jernih di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, yang merupakan kapung yang seluruh penduduknya adalah warga asli Papua dari kampung setempat.

Di kampung tersebut, baru terpasang tower pada Bulan September 2018, yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Dan telkomsel adalah yang pertama hadir melayani komunikasi di tempat tersebut dengan jaringan 4G LTE, melalui system radio IP untuk transport datanya.

“Mantap ini, sudah bias telepon maupun video call dari sini (tempat wisata Kali Jernih),” ungkapnya saat ditemui usai video call dengan saudaranya dari lokasi wisata tersebut.

Selain dapat berkomunikasi dengan mudah dari lokasi wisata Kali Jernih, juga dapat dengan mudah mengakses internet.[yat]