
Pemerintah dan Penegak Hukum Terkesan Tutup Mata
MANOKWARI, PapuaSatu.com – Pemeritah dan penegak hukum di wilayah Provinsi Papua Barat dinilai tak mampu berantas permainan judi toto gelap (togel), minuman keras (Miras), Narkoba, dan Lem Aibon.

Padahal, di wilayah Papua Barat ini banyak pejabat yang beragama nasrasi atau kristen. Baik di pemerintahan maupun penegak hukum, tetapi nyatanya semuanya semakin menjamur, bahkan terkesan tak mampu diatasi. Apalagi di Ibu Kota Provinsi yang dujuluki sebagai kota Injil, semua kejahatan yakni togel, lem aibon, dan miras sangat menjamur.
“Kami hamba Tuhan melihat aparat keamanan khususnya pihak kepolisian mereka tidak punya niat untuk memberantas togel dan miras yang semakin merajalelah di kota ini, karena judi yang sudah jelas-jelas di depan mata tidak ditindak,”kata Pdt. Daniel Korwa yang ditemui, PapuaSatu.com, belum lama ini.
Selain togel, lanjutnya, peredaran atau penjualan miras opolosan sampai dengan berlebal di wilayah Papua Barat khusus khusus di Manokwari Kota Injil.
“Ini kan, kelihatannya sulit sekali untuk diatasi. Saya baca di media massa, aparat kepolisian menangkap miras satu gudang di Bintuni dan pemerinta bersama aparat berantas ribuan miras. Tapi toh masih menjamur, sebenarnya siapa aktor di balik semua ini,”ucapnya.
Menurutnya, akibat dari miras dan juga narkoba terjadilah bentuk-bentuk kejahatan seperti penjambretan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan.
“Apalagi togel yang sudah jelas-jelas dijual di depan mata atau di dalam kota, tapi heran masa tidak bisa ditindak. Atau jangan sampai peredaran miras maupun judi ini ada yang beck-up. Pemerintah dan penegak hukum lakukan proses pembiaran,”tegasnya lagi.
Oleh sebab itu, sebagai hamba Tuhan, dirinya meminta kepada penegak hukum dalam hal ini Polda Papua Barat maupun Polres agar serius memebaratas miras maupun togel.
“Manokwari ini kota peradapan umat kristiani di tanah Papua. Masa bupati kita beragama kristen, gubernur beragama kristen, penegak hukum di kepolisian sebagiannya beragama kristen. Baru hal-hal ini kenapa tidak dapat di atasi,”bebernya.
Disamping itu, Pdt. Daniel Korwa juga mendesak pemerintah daerah agar tidak menutup mata dengan persoalan Lem Aibon yang sudah sangat marak di Manokwari dan ini paling banyak dialami generasi muda Papua.
“Sebab, ini salah satu penyabab hancurnya karakter kita sebagai umat bergama teruma kita umat kristen yang tinggal di Kota Injil,”imbuhnya.
Namun, dirinya mengungkapkan, apabila hal-hal negatif tersebut tak mampu diatasi. Maka, sebaiknya Manokwari jangan disebut sebagai Kota Injil dihapus saja, karena sudah tidak layak. [free]










