
Sebuah Catatan dari Lokasi TMMD Ke-103 Kodim 1712/Sarmi
SARMI, PapuaSatu.com – Cukup satu kata bagi Bupati Sarmi, Edward Fonataba ketika dimintai tanggapan tentang program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103 Kodim 1712/Sarmi, yang tahun 2018 ini digelar di Kampung Wamariri, Distrik Apawer Hulu, Kabupaten Sarmi.
“Itu sudah, chemistry itu hebat,” ungkap bupati saat dimintai pendapatnya tentang program TMMD usai pertemuan dengan Tim Wasev TMMD, Brigjen TNI Hendrawan,SIP di Kampung Wamariri, Kamis (8/11/2018).
Bupati Fonataba menyebut istilah chemistry untuk pelaksanaan TMMD, karena apa yang menjadi keinginannya maupun keinginan rakyatnya, satu visi dan satu misi dengan apa yang menjadi visi dan misi program TMMD.
Saat ditanya tentang apa ada usulan kampung lain untuk pelaksanaan TMMD tahun berikutnya, Bupati Fonataba tidak berani menjanjikan, melainkan memberikan pepatah para pelaut, yaitu “Ada ikan di perahu baru bernyanyi”.
Pepatah tersebut mengisyaratkan bahwa Bupati Sarmi ingin memberikan bukti dulu baru berbicara. “Jangan nanti kita bicara, taunya tidak jadi,” ujarnya.
Istilah Chemistry sendiri, meski merupakan istilah dalam ilmu kimia, jika diaplikasikan dalam hubungan antar-manusia, chemistry bisa dikatakan sebagai kesesuaian secara kimiawi antara dua orang atau lebih, sehingga mereka merasakan kecocokan dan kenyamanan bila berdekatan satu sama lain.
Chemistry atau kecocokan tersebut diungkapkan bupati, karena apa yang menjadi keinginannya bersama masyarakatnya di Kabupaten Sarmi, sama dengan diungkapkan Brigjen TNI Hendrawan,SIP selaku Ketua Tim Wasev TMMD ke-103, terkait visi dan misi TMMD.
Yang mana, lokasi pelaksanaan TMMD ke-103 Kodim 1712/Sarmi, ditentukan atas dasar masukan dan saran dari Bupati Sarmi, Edward Fonataba, agar dimulai di daerah terlemah.
“Perencanaan ini berasal dari keinginan dan masukan masyarakat. Apa yang diinginkan itu yang kita wujudkan,” ungkap Brigjen Hendrawan saat ditemui wartawan di Kampung Wamariri, Distrik Apawer Hulu, Kabupaten Sarmi, Kamis (8/11/2018).
Dikatakan, bahwa untuk pelaksanaan TMMD, Dandim berkomunikasi dengan Bupati terkait masukan yang datang dari masyarakat. Sehingga keinginan dan masukan hasil musyawarah (rembukan), bisa ditetapkan dan diwujudkan melalui TMMD.
“Kita berharap, dengan TMMD ini bisa membuka daerah-daerah yang terisolir, sehingga terbuka sama dengan daerah yang lainnya,” ujarnya.
Apa yang menjadi masukan dan saran bupati, bahwa TMMD hendaknya dimulai daerah terlemah atau yang masuk kategori Terpencil, Terluar dan Terdepan (3T), menurut Brigjen Hendrawan, sangat sejalan dengan visi TMMD.
“Kalau bupati bilang TMMD ini dicanangkan dimulai dari titik terlemah, ini satu kecocokan pendapat. Mudah-mudahan kedepan kita bisa melihat daerah-daerah mana lagi yang bisa kita lakukan seperti ini,” jelasnya.

TNI Manunggal Membangun Desa/Kampung (TMMD) yang pada dekade 80-an dinamakan ABRI Masuk Desa (AMD), merupakan wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat, agar TNI dan rakyat dapat satu dalam sikap dan tingkah laku.
Hal itu adalah satu keniscayaan, karena TNI sendiri lahir dari rakyat. Sehingga ada semboyan bahwa “TNI adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.
Dalam pelaksanaannya, Kegiatan TMMD tersebut berupa operasi bhakti TNI secara terpadu setiap tahun, yang dilaksanakan secara lintas sektoral, bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Sudah banyak karya bhakti yang dihasilkan melalui TMMD tersebut, baik itu sarana dan prasarana fisik, maupun pada sektor pendidikan, kesehatan, dan bidang sosial kemasyarakatan lainnya di seluruh wilayah Indonesia.
Pengubahan istilah dari AMD ke TMMD berjalan seiring reogranisasi ABRI pada masa reformasi.
Dan untuk pelaksanaan TMMD ke-103 Kodim 1712/Sarmi, sebagaiman diungkapkan Dandim 1712/Sarmi, Letkol Inf. Hendra Pasireron,SE , yang berupa kegiatan fisik adalah membangun gereja 7X18 m2, balai kampung 7X18 m2 dan MCK 2X4 m2.
Sedangkan kegiatan non fisik, yaitu berupa penyuluhan pertanian, wawasan kebangsaan, KB kesehatan, pengobatan massal dan pembagian sembako.
Tidak hanya itu, Satgas TMMD juga menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat, yakni tinggal di rumah masyarakat, berolahraga bersama dan berbagai aktifitas lain yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat.
Selain itu, akses jalan yang selama ini sulit dilalui akibat jembatan yang rusak parah dan kondisi jalan masih tanah, dengan kehadiran Satgas TMMD, jalan sepanjang sekitar 45 km yang menghubungkan Distrik Apawer Hulu dengan Kota Sarmi, menjadi lebih baik lagi dengan ditimbun batuan karang dan dipadatkan.
Dalam kegiatan-kegiatan TMMD, juga tampak sinergitas TNI dan Polri. Yakni, juga melibatkan unsure kepolisian dari Polres Sarmi, baik dalam pekerjaan fisik maupun non fisik.
Marten Tinauso, yang merupakan salah satu tokoh masyarakat setempat saat berbincang-bincang dengan penulis mengungkapkan bahwa ia sangat senang atas kehadiran aparat TNI di kampungnya.
“Pak Dadim ini memang baik sekali. Mudah-mudahan bisa lama di sini supaya bantu kitorang (kami, red) membangun terus kampung ini,” ungkap Marten bersama Yahya Pairi dalam perbincangan dengan penulis di para-para di bawah pohon, sambil menunggu acara pertemuan dengan Bupati Sarmi dan Tim Wasev TMMD.
Dikatakan, selama kurang lebih tiga minggu keberadaan aparat TNI dari Satgas TMD di kampungnya, hubungan antara TNI dengan masyarakat, pemuda dan anak-anak cukup baik.
Demikian juga dikatakan Oscar Namso, Kaur Kesra Kampung Soramania, Distrik Apawer Hulu, Kabupaten Sarmi, yang mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas kehadiran Satgas TMMD di kampungnya.
“Kami berstyukur dan berterima kasih sekali untuk bapa (TNI, red) dorang. Kami sama-sama bekerja, berolahraga. Baru-baru kemarin sepakbola bersama-sama bapa (TNI, red) dorang. Volly juga bersama-sama, dan kami mendukung,” tutur Oscar.
Ia pun berulang kali menyatakan rasa syukurnya dan berterima kasih banyak kepada Satgas TMMD, dan berjanji akan melanjutkan pekerjaan dari TNI lewat TMMD kedepannya.
“Kami bersyukur sekali dan di 2019 kami akan melanjutkannya,” ungkapnya.[Ahmad Jainuri]










