Koramil 1710-02/Timika Bantu Petani Rawat Lahan Pertanian

587

JAYAPURA, PapuaSatu.com –  Dalam mengembangkan pertanian Babinsa secara terus menerus memberikan pendampingan pada para petani. Hal tersebut juga masih dilaksanakan oleh Koramil 1710-02/Timika sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan di Tanah Papua. Danpos Wania, Pelda Kunarso secara rutin memberikan pendampingan kepada petani di desa binaannya seperti yang dilakukan hari ini, Sabtu (21/10/2017).

Berdasarkan Press Release Penerangan Kodam (Pendam) XVII/Cenderawasih yang diterima PapuaSatu.com, sore tadi, walaupun hari libur, Pelda Kunarso secara rutin melaksanakan peninjauan lahan pertanian di wilayah binaannya. Kali ini Pelda Kunarso meninjau ladang bapak Parjo di kelurahan Wonosari Jaya SP4, jalur 7, Distrik Wania. Dalam kesempatan ini Pelda Kunarso memberikan bantuan dalam memupuk tanaman dan mengolah tanah sehingga hasil pertanian dapat menjadi lebih subur. Tidak hanya itu, Pelda Kunarso pun membantu membersihkan ladang bapak Parjo dari lumut dan rumput liar, keduanya tumbuh subur mengingat Kabupaten Mimika memiliki curah hujan yang tinggi.

Pelda Kunarso mengetahui bahwa pengalaman para Babinsa mengenai dunia pertanian akan kalah dengan para petani yang sudah puluhan tahun menggeluti bidang tersebut. Namun Koramil 1710-02/Timika memiliki pengetahuan yang diberikan saat pembekalan di Satuan untuk membantu petani sehingga dalam kesempatan ini pun keduanya saling bertukar informasi dan pengalaman. Pelda Kunarso menyarankan agar petani bisa mencoba pupuk organik buatan yang sudah dikembangkan oleh angkatan darat dan nantinya akan diberikan kepada petani sebagai percobaan.

Pelda Kunarso juga mengatakan bahwa rekan-rekannya di Koramil 1710-02/Timika akan selalu mendampingi para petani walaupun pengetahuannya mengenai pertanian tidak dikuasai sepenuhnya, tetapi perhatian Babinsa untuk petani tidak akan putus.

Sementara itu, Bapak Parjo pun tertarik dengan pupuk organik tersebut dan berniat untuk mencobanya mengingat pupuk kimia kadang-kadang sulit didapatkan dan harganya cukup mahal. Selain itu Bapak Parjo pun mengeluhkan curah hujan yang tidak menentu yang terkadang membuat tanamannya gagal panen akibat banjir. (Abe)