
Bila Tidak Menyerah, Sampai Kapan Pun Purom Akan Dikejar
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kelompok TPN/OPM pimpinan Purom Wenda yang Hari Jumat (2/11/2018) beraksi membunuh salah satu tukang ojek di Kabupaten Lanny Jaya, memiliki cerita yang menarik dari sisi perjalanan awalnya saat pertama bergabung pada kelompok pimpinan Goliat Tabuni di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya.
Berikut catatan tentang Purom WEnda dari Kodam/XVII Cenderawasih, yang diterima PapuaSatu.com, Senin (5/11/2018) malam, sebagaimana diceritakan oleh Wakapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Dax Sianturi.
“Sekitar 15 tahun lalu, pria bernama lengkap Purom Okiman Wenda pada awalnya hanya pelaku kriminal kelas “teri” yang sering mabuk-mabukan dan memalak masyarakat di wilayah Kabupaten Puncak Jaya,” ungkapnya mengawali cerita.
Akibat ulahnya yang selalu meresahkan warga, Purom pun masuk dalam kejaran pihak kepolisian.
“Demi menghindari kejaran polisi, Purom lari ke hutan di distrik Tingginambut dan bergabung dengan kelompok separatis OPM pimpinan Goliath Tabuni,” lanjutnya.
Lebih lanjut diceritakan, tingkat intelektual Purom yang rendah memudahkan Goliath Tabuni mendoktrin ide-ide separatisme dan rasisme kepada dirinya.
Seiring dengan menurunnya aksi kelompok Goliath Tabuni akibat kejaran aparat, Purom pun mulai berusaha menunjukkan eksistensinya.
Dia menarik diri dari kelompok Goliath Tabuni dan mulai membentuk kelompok tersendiri yang terdiri dari anggota yang berusia muda, brutal, emosional dan tidak berpendidikan. Purom memilih hutan pedalaman di Kabupaten Lanny Jaya sebagai basis kekuatannya.
Letkol Dax Sianturi juga menceritakan catatannya tentang jejak kekejaman kelompok separatis pimpinan Purom Wenda :
Tahun 2012, kelompok Purom Wenda mulai dikenal ketika melakukan penyerangan terhadap Mapolsek Pirime pada 27 November 2012.
Purom dan kelompoknya membunuh dengan keji 3 orang anggota Polsek Pirime dan merampas 3 pucuk senjata api, 2 senjata api laras panjang dan 1 pistol Revolver.
Bahkan beberapa hari kemudian, ketika Kapolda Papua saat itu, Irjen Pol Tito Karnavian meninjau TKP di Mapolsek Pirime, Purom dengan arogansinya melakukan penembakan terhadap rombongan Kapolda.
Keputusan yang didasari arogansi dan kebodohannya itu justru mengakibatkan salah satu anggotanya, Wandis Wanimbo, tewas tertembak aparat.
Sebagai pemimpin kelompok tersebut, Purom lah yang sesungguhnya paling bertanggung jawab atas kematian anggotanya tersebut.
Sebulan kemudian, Desember 2012, Purom dkk kembali menembak seorang warga sipil, Ferdi Turuwalo, seorang pekerja bangunan asal Toraja di kampung Dugom, Distrik Tiom.
Jenazah Ferdi ditemukan dengan luka tembak di kepala. Ini menunjukan bahwa Ferdi ditembak dari jarak sangat dekat. Sadis !!!
Tahun 2014, tepatnya tanggal 30 Mei 2014 sore hari, kelompok Purom Wenda kembali beraksi di depan sebuah kios pengecer BBM, di Distrik Tiom.
Dia menembak mati seorang anggota Polri bernama Bripda Irfan yang sedang melintas.
Dua bulan kemudian, 17 Juli 2014, seorang warga sipil bernama Nasito, asal Purbolinggo, yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek, ditembak di bagian leher oleh Purom Wenda dkk, di dekat SD Inpres Desa Dugume, Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya.
Sekitar seminggu kemudian, 28 Juli 2014, kelompok Purom melakukan penghadangan terhadap Tim patroli gabungan Polres Lanny Jaya dan Polsek Pirime di Kampung Nugume, Distrik Pirime.
Pada 1 Agustus 2014, Purom kembali menunjukan arogansinya dengan melakukan penghadangan terhadap pasukan TNI yang sedang melaksanakan pergeseran pasukan dari Wamena menuju Lanny Jaya.
Satu orang prajurit TNI menderita luka tembak dan 5 orang kelompok Purom tewas dalam kontak senjata tersebut.
Tiga hari kemudian, 4 Agustus 2014, kelompok separatis ini kembali menyerang konvoi personel Brimob Papua yang sedang mengawal Sekda Kab. Lanny Jaya di sekitar jembatan Yalipok, perbatasan Kampung Jiwili dan Kampung Wiremgembur.
Satu orang personel Brimob menderita luka pada kornea mata terkena kelongsong peluru.
Tahun 2015, dua orang warga sipil bernama Giku Murib dan Markus, yang bekerja sebagai pengemudi dan operator alat berat CV Nirwana, menderita luka tembak di tangan dan bahu kiri setelah mobil yang mereka tumpangi ditembak dari arah belakang di Distrik Popome.
Purom dkk juga membakar 1 unit Escavator milik CV Nirwana.
Tahun 2016, Tanggal 22 Agustus 2016 siang, seorang warga sipil karyawan PT Asjaya berusia 36 tahun bernama Simon, asal Toraja, ditembak mati di bagian kepala dan dada kanan oleh kelompok Purom Wenda di desa Kome, Distrik Malagaineri, Kabupaten Lanny Jaya.
Tahun 2017, tepatnya tanggal pada 1 Mei 2017, Bripka Awaludin mengalami luka parah di kepala akibat penembakan yang dilakukan oleh Purom Wenda di kios milik Awaludin di Pasar Tiom, Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya.
Pada awal Desember 2017, kelompok Purom Wenda juga menembaki anggota Mapolsres Lanny Jaya yang sedang melaksanakan apel pagi dari ketinggian depan Mapolres. Tidak ada korban jiwa, namun sejumlah kaca di Mapolres pecah terkena tembakan.
Tahun 2018, tanggal 23 Mei 2018, pegawai Pemda Kabupaten Lanny Jaya, tidak luput dari gangguan teror kelompok Purom.
Saat melaksanakan distribusi dana bantuan sosial kepada masyarakat di Distrik Ballinga, mereka mendapat tembakan dari arah bukit sekitar lokasi. Berkat kesigapan personel keamanan, kegiatan dapat berlangsung tanpa menimbulkan korban dan kerugian materiil.
Pada Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke – 73, tanggal 17 Agustus 2018, kembali, Purom Wenda meneror masyarakat yang sedang melakukan upacara dengan mengeluarkan tembakan di sekitar lokasi upacara.
Meskipun tidak ada korban, namun aksi tersebut menimbulkan ketakutan bagi masyarakat Lanny Jaya.
Terakhir, tanggal 2 November 2018, seorang tukang ojek bernama Yanmar, asal Sulawesi Selatan, ditembak mati di bagian leher di sekitar daerah pintu angin, Balingga.
Kekejaman kelompok Purom Wenda memang menjadi momok yang menakutkan bagi warga Papua.
Hampir seluruh korbannya ditembak di bagian kepala, leher dan dada.
Ini menunjukan bahwa korban dihabisi dari jarak dekat dan tanpa perlawanan.
Purom Wenda juga seorang yang sangat membenci warga pendatang. Terbukti seluruh korban yang dihabisinya adalah warga pendatang.
Tidak terlihat sama sekali rasa takut akan Tuhan pada dirinya.
Purom Wenda pun sebenarnya sadar bahwa tindak-tanduknya disamping menimbulkan korban jiwa aparat dan warga sipil, juga mengakibatkan tewasnya beberapa anggotanya.
Namun ia seakan tidak perduli. Bagi Purom nyawa anggotanya pun tidak berharga. Oleh sebab itu, Purom Okiman Wenda harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Bila tidak menyerah, sampai kapan pun Purom akan dikejar dan menghadapi ancaman hukuman mati atas perbuatannya.
“Purom bisa saja menghindar dari pengadilan manusia tetapi ia tidak bisa menghindar dari pengadilan Tuhan yang Maha Adil,” tutupnya.[yat]










