
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Simulasi pengamanan Pemilihan gubernur yang dilaksanakan Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih di Lapangan Brimob, Kotaraja, Kota Jayapura, Rabu (14/02/2018) berlangsung dramatis.
Dalam simulasi tersebut, para personel Polri-TNI memperagakan beberapa adegan penanganan konflik massa pendukung pasangan calon kepala daerah yang kerap terjadi. Mulai dari penyaluran surat suara ke salah satu Distrik di Kota Jayapura, hari pencoblosan hingga usai penghitungan suara.
Dimana pada awal simulasi ada dua orang pemuda yang hendak merampas surat suara yang akan di distribusikan ke Distrik Jayapura Utara.

Sebelumnya kedua pemuda tersebut telah menghamburkan ranjau paku disalah satu ruas jalan di Distrik Jayapura Utara. Seketika ban mobil Hilux berwarna biru muda itu bocor dan disaat itulah kedua pemuda tersebut mencoba mendekat untuk merampas surat suara.
Namun upaya kedua pemuda tersebut berhasil digagalkan oleh aparat kepolisan yang menjalankan tugas untuk mengawal pendistribusian surat suara.
Berikutnya meceritakan saat jadwal kampanye salah satu pasangan calon gubernur Papua. Ketika sedang berkampanye di stadion Mandala Jayapura, tiba-tiba terdengar suara tembakan sehingga pasangan calon tersebut langsung diamankan oleh pangawalnya yang telah ditunjuk langsung oleh Kapolda Papua.
Lalu pada hari pemungutan suara, di TPS 07, Kelurahan Entrop Distrik Japsel terjadi kericuhan lantaran ada seorang warga yang melakukan pencoblosan dua kali dengan menggunakan formulir C6. Lagi-lagi, polisi dan TNI yang memantau di TPS itupun dapat meredakan situasi sehingga kericuhan tidak meluas.
Kemudian usai perhitungan suara, sekelompok yang tidak terima dengan putusan KPU yang menyatakan pasangan calon xxx terpilih sebagai gubernur Papua. Mendatangi Kantor KPU Papua dan melakukan unjuk rasa yang berujung anarkis sehingga dua orang didapati tewas ditempat.

Seorang terkena panah dari pendukung dan simpatisan calon gubernur dan seorang lainnya tewas akibat tembakan aparat kepolisian.
Aksi protes tersebut masih terus berlanjut dengan dengan diculiknya ketua KPU Papua oleh sekelompok orang tidak dikenal yang menginginkan pemnugutan suara dilakukan kembali.
Setelah mendapat informasi bahwa Ketua KPU Papua telah diculik oleh kelompok tidak dikenal, Satgas Anti Teror Polda Papua langsung melakukan penyergapan untuk membebaskan Ketua KPU Papua.
Lagi, proses pembebasan Ketua KPU kembali berjalan dramatis karena ketua KPU diancam diledakan oleh salah satu oknum warga yang melakukan penyanderaan.
Berkat ketepatan sniper dalam menembak, Ketua KPU Papua berhasil dibebaskan. Namun sebelum oknum warga tersebut meregang nyawa, penyandera tersebut sempat menekan detonator bom yang digenggamnya sehingga bahan peledak yang ada ditubuh meledak. Duuuaaarrrr…!!! Seketika tubuh penyadera tersebut langsung berai.
Ketegangan yang terjadi akibat adanya terror bom tersebut terus berlanjut ketika saat salah satu anggota tim Jihandak Gegana Polda Papua hendak memeriksa rumah yang digunakan untuk menyadera ketua KPU Papua.
Saat hendak masuk kedalam rumah tersebut, duuuaaaarrrr!!! Sekali lagi ledakan terjadi yang menyebabkan anggota tersebut terhempas sekiranya 7 meter dari beranda rumah tersebut. Beruntung anggota tim Jihandak Gegana tersebut tidak mengalami cidera karena telah memggunakan pakaian pelindung yang beratnya kira-kira mencapai 30 Kg.
Setelah memeriksakan keadaannya anggota Gegana kembali untuk memasuki rumah Akhirnya berhasil mengamankan sebuah tas berisi bom.
Kemudian tas tersebut diledakan disatu lokasi yang radiusnya ratusan meter dari keramaian warga.
Tidak sampai disitu, kericuhan kembali terjadi bahkan semakin memanas. Dimana ribuan pendukung pasangan calon yang tidak terima kekalahan calon kepala daerahnya, melakukan aksi turun ke jalan.
Bahkan aksi yang semulanya berlangsung damai tersebut menjadi menegangkan setelah masa merasa keinginannya tidak terpenuhi.
Massa tersebut mencoba menembus barikade polisi dengan mendorong maupun melakukan pelemparan.
Selain itu massa juga nekat melakukan pembakaran ban di tengah jalan.
Meskipun telah dihalau dengan disemprotkannya watercanon maupu tembakan gas air mata hal tersebut tak membuat aksi brutal yang dilakukan masa tersebut berhenti.
Aksi masa baru terhenti setelah aparat memberikan tindakan tegas kepada beberapa orang yang dianggap sebagai provokator dalam insiden tersebut. Dan setelah negosiasi panjang dilakukan masa akhirnya membubarkan diri dengan senidirinya. [abe]










