
caption : Foto bersama usai penandatanganan kerjasama. foto: Arie Bagus/PapuaSatu.com
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua menjalin kerjasama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Univesitas Cenderawasih.
Kerjasama ini dalam bentuk penguatan fungsi berupa dukungan penyelenggaraan kawasan konservasi melalui pendekatan akademik kepada masyarakat. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatangan kerjasama kedua pihak yang dilakukan di Kawasan Wisata Pasir VI, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (26/05/2018).
Penandatangan kerjasama tersebut dilakukan oleh Kepala BBKSDA Papua, Timbul Batubara dan Dekan FMIPA Uncen, Dirk Runtuboi disaksikan oleh perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Dinas Lingkungan Hidup, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, Kodim 1701/Jayapura, Direskrimsus Polda Papua, USAID Lestari, Ketua DAS Imbi Numbay, dan Komunitas Pencinta Reptil Mania.
Kepala BBKSDA Papua, Timbul Batubara usai penandatangan kerja sama tersebut kepada wartawan mengungkapkan bahwa, kerjasama dengan FMIPA sangat penting agar para mahasiswa dapat membackup pihaknya dalam melakukan penelitian dan rancangan percobaan berbasis cagar alam di kawasan konservasi Cycloop.
Selain itu, Batubara juga berharap kedepannya mahasiswa dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa basis koservasi itu berada pada masyarakat adat. Sehingga pendampingan mahasiswa dalam unsur akademik kepada masyarakat adat itu menjadi penting.
“dengan cara memberikan pemahaman-pemahaman konservasi sehingga masyarakat kita itu lebih mampu menghargai nilai-nilai kekayaan alam kita” kata Batubara.
Lanjutnya, untuk mewujudkan itu pihaknya dengan FMIPA akan mencoba budidaya anggrek. “nanti kami akan membuat penangkaran anggrek yang berasal dari Cyloop disitu nanti mahasiwa yang akan melakukan penelitiannya. Kita dari segi pengadaannya” tambahnya.
Batubara juga menambahkan, jika hal ini berhasil dilakukan, maka BBKSDA Provinsi Papua akan memfasiltasi para mahasiswa tersebut untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat adat dalam membudidayakan anggrek untuk diperdagangkan nantinya.
“Jadi yang boleh kita pasarkan itu turunanya (perkawinan silangnya) yang boleh dijual. Dan ini akan menguntung masyarakat jika ingin berbisnis seperti ini. Karena keunikan anggrek hitam Papua itu selalu dicari” ujarnya. [abe]










