Cari Solusi, MRP Seminarkan Buku ‘Kekerasan Tak Berujung di Nduga’

0
474
CAPTION: Ketua MRP, Timotius Murib saat diwawancarai usai seminar. (Sony
CAPTION: Ketua MRP, Timotius Murib saat diwawancarai usai seminar. (Sony

JAYAPURA, – PapuaSatu.comSebuah buku berjudul ‘Kekerasan Tak Berujung di Nduga’ hasil investigasi tim panitia khusus  (Pansus) HAM  Majelis Rakyat Papua (MRP) diseminarkan, di salah satu hotel di Jayapura, Senin (9/12/2019) 

Buku setebal 170 halaman dengan 7 Bab ini, dalam Bab terakhirnya memuat sejumlah rekomendasi  Pansus HAM MRP, serta daftar nama pengungsi Nduga akibat konflik kekerasan antara aparat dengan kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya,    

Menariknya dalam buku tersebut memuat secara lengkap kronologi konflik  Nduga yang berkepanjangan  hingga  saat ini.   

Di awali adanya keinginan kelompok TPN-PB OPM pimpinan Egianus Kogoya merayakan 1 Desember  yang dianggap sebagai hari kemerdekaan Papua.  

Untuk menghormati ‘hari sakral’ 1 Desember tersebut, Egianus Kogoya mengirim surat ke presiden RI dan pihak PT. Istaka Karya yang sedang mengerjakan proyek jembatan saat itu.

Surat itu ditujukan ke  Jhony Arung selaku Site Operation Manajer PT Istaka Karya  isinya agar berhenti bekerja sebelum tanggal 1 Desember 2018 atau paling lambat tanggal 23 November.

 Namun permintaan itu tak indahkan, sehingga terjadilah pembunuhan sejumlah  pekerja PT. Istaka Karya oleh TPN-OPM  tanggal 3 Desember 2018 di Yigi 1, tepatnya di Distrik Nduga.  

Semenjak peristiwa itulah menyebabkan konflik kekerasan Nduga yang melibatkan TNI dengan kelompok TPN-OPM  terus berkepanjangan,  sampai saat ini akibatnya  rakyat Nduga jadi korban.  

Ketua MRP Timotius Murib mengatakan, menyikapi konflik kekerasan  di Nduga,  MRP telah membentuk Pansus HAM  untuk menginvestigasi kondisi warga Nduga yang mengungsi akibat konflik bersenjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya.

Untuk itu lanjutnya, Pansus HAM MRP telah mengunjungi warga Nduga yang sedang mengungsi ke sejumlah daerah seperti di Yalimo, Wamena, Lanny Jaya dan Kuyawage.

Dari  hasil investigasi itulah yang ditungkan dalam buku ‘Kekerasan tak Berujung di Nduga,” lalu diseminarkan bersama  berbagai stakeholder, diantaranya  pemerintah, Komnas HAM, Mahasiswa,, Tokoh masyarakat, tokoh agama,  guna mendapatkan masukan-masukan yang berarti untuk menemukan solusi penyelesaian nantinya.

Pihak MRP berharap seminar ini akan menghasilkan sejumklah saran dan pendapat pimpinan  organisasi dan lembaga di Papua maupun Indonesia, agar ada suatu kesimpunan penyelesaian konflik dengan jalan damai.  “Penyelesaian konflik tidak hanya dari sipil saja untuk itu kami juga akan mengundang pihak TNI/Polri untuk bisa memberikan masukan, sebab merekalah yang punya peran  penting untuk menyelesaikan konflik seperti ini,”katanya kepada wartawan di Jayapura, kemarin.

Kata Murib,   setelah ini MRP juga akan menerbitkan satu buku lagi setelah menertima saran dan masukan dari berbagai pihak.

Dikatakan konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Nduga membuat separuh populasi warga di empat distrik mengungsi, dimana MRP memperkirakan jumlah pengunsgi Nduga itu mencapai 400 ribu jiwa, hanya itu jumlahnya tidak pasti.

 “ Sebenarnya Pansus sudah konfirmasi data yang pasti, tetapi mereka tidak memberikan data pasti soal jumlah penduduk yang mengungsi, tetapi mereka sampaikan hampir sebagian besar penduduk pergi karena ketakutan,”katanya,

Ditambahkan, MRP rtidak hanya melihat konflik di Nduga, tetapi juga  menyoal konflik di beberapa wilayah, yang dalam beberapa tahun terakhir ini terus terjadi, seperti di Ilaga, Timika, Puncak Jaya dan Lanny Jaya. [sony]