Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang

1748
?
Caption foto : Anggota BPK Rayon I Danau Klasis GKI Waibu-Moi, Pdt. Yos Enthong, S.Th bersama Ondoafi Kampung Yakonde, Kerai Nikolas Daimoi sedang meletakan batu pertama pertanda dimulainya pembangunan Tugu Perdamaian di Kampung Yakonde. (Yanpiet/PapuaSatu.com)

Dari Peletakan Batu Pertama Pembangunan Tugu Perdamaian Kampung Yakonde

Oleh : YANPIET FESTUS TUNGKOYE – PapuaSatu.com

“Kehidupan dulu sebagai komunitas manusia yang berupaya menunjukan identitas dan kekuatan guna mengusasi sebuah wilayah atau tempat selalu di warnai dengan perang suku”

Kampung Yakonde adalah sebuah kampung yang berada di ujung Barat Danau Sentani. Konon menurut cerita, kampung Yakonde merupakan slaah satu kamung dari sejumlah kampung di Waibu yang koloni pertama mendiami Pulau Urien kala itu.

Disebabkan oleh ketidakakuran antara kaka beradik dalam keluarga besar yang mendiami Pulau Urien tersebut berdampak terjadinya perkelahian dan membuat masing-masing kakak beradik berkelana mencari tempat baru guna bermukim dan menetap menjadi kampung.

Akhirnya tibalah orang pertama kampung Yakonde di sebuah tempat yang di kenal dengan nama Yotukuru di sebelah barat Pulau Urien. Namun kehidupan di tempat baru tidak menjamin untuk kelangsungan hidup karena banyaknya suku-suku asli yang selalu mengancam ketentraman dan nyawa akhirnya berpinda ketempat yang baru yang kini di sebut Kayaiware.

Kendati sudah menemukan wilayah baru namun ancamana serupa seperti di kampung lama masih mengancam, akhirnya pecahlah peran antara orang-orang pertama Kampung Yakonde dengan sejumlah kampung di sekitar pemukiman guna memperebutkan wilayah koloni bagi orang Yakonde kala itu.

Akibat peperangan tersebut telah terjadi pertumpahan darah dengan jatuhnya korban jiwa dan dampaknya menjadi sebuah dosa yang di tuntut oleh Tuhan dengan caranya sendiri hingga berpuluh-puluh tahun kutuk bagi Orang Yakonde terus ada.

Kutuk tersebut nyata berupa lambatnya pertumubuhan populasi penduduk, rendahnya minat anak-anak Yakonde mengenyam pendidikan dan sejumlah kutuk yang kesemuanya telah membuat semua orang berpikir dan berusaha menemukan jawaban.

Hingga akhirnya, dekade 60-an datanglah seorang guru sekolah merangkap guru injil yakni, Gr, Suebu. Sebagaimana di ilhamkan oleh Allah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan guru tersebut mengajak semua pihak yang pernah berperan hingga menimbulkan korabn jiwa harus berdamai dengan orang Yakonde.

Maka tepat pada tanggl, 14 November tahun 70-an terjadilah sebuah prosesi perdamaian antara orang Yakonde dan sejumlah kampung sekitar yang berperan dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan sambil memohon Tuhan memperdamaikan.

Moment perdamaian tersebut dianggap oleh orang Yakonde sebagai sebuah hal yang perlu di syukuri dan di peringati sebagai bagian dari sejarah peradaban dengan melesatrikannya demi kehidupan yang layak dan penuh kedamaian di masa yang akan datang.

Untuk memperingatinya maka, tepat Tanggal 14 November 2017 ini dengan nama Tuhan oleh Hambanya, Pdt. Yos Enthong, S.Th selaku Anggota Badan Pekerja Klasis (BPK) Rayon I Danau, Klasis GKI Waibu-Moi meletakan batu pertama pembangunan Tugu Perdamaian di Tanjung Bebutu, Kampung Yakonde.

Dalam penyampaiannya, Pdt. Yos Enthong, S.Th menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh orang Yakonde pada masa lalu adalah sebuah tindakan penyelamatan generasi penerus yang berlangsung hingga di saat ini tentunya dalam lawatan dan tuntutan Tuhan.

“Biarlah pembangunan Tugu Perdamaian ini menjadi sebuah simbol bahwa di kampung ini Tuhan pernah berkarya menghadirkan kuasa-Nya dalam menyelamatkan umat Tuhan,” ujarnya.

Dikatakan, semua pihak di kampung Yakonde, adat, gereja dan pemerintah harus bersatu membangun tugu perdamaian agara sukaccita dan damai yang dari Allah terus menaungi dan menyertai dari saat ini terus kekal sampai selama-lamanya.

Di tempat yang sama, Ondoapi Kampung Yakonde, Kerai Nikolas Daimoi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan peletakan batu pertama pembangunan tugu perdamaian.

“Gereja hadir membawa keselamatan bagi semua orang Kampung Yakonde sebab itu, saya mengajak semua anak kampung untuk mengambil bagian secara terus menerus selama pembangunan berlangsung hingga selesai karena peradaban bagi kita telah nyata melalui perbuatan nyata pendahulu kita,” tukas Ondo.

Di tambahkan, gereja, pemerintah, perempuan, pemuda dan semua komponen di Kampung Yakonde hendaknya memiliki semangat yang sama dalam membangun tugu perdamaian sebagai simbol kebangkitan kampung menuju 100 tahun Injil di Kampung Yakonde.**