Muksin Bantah Sebut Keterlibatan Oknum Polisi Dalam Dugaan Kelangkaan BBM

Salah satu nelayan di Kabupaten Teluk Bintuni, Muksin. Foto : IST

MANOKWARI, PapuaSatu.com –  Muksin, salah satu nelayan yang menjadi nasumber terkait pemberitaan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Teluk Bintuni membatah pernah mengatakan ada keterlibatan oknum aparat kepolisian.

Pasalnya, telah beredar pemberitaan di sejumlah media menyebutkan namanya sebagai narasumber.

“Di redaksi berita online tersebut, ada narasi yang mengatakan ‘Maraknya penimbunan BBM ilegal di Teluk Bintuni sudah tidak heran, alias menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat, dan menjadi surga bisnis BBM ‘kencing’ atau ilegal,” kata Muskin melalui press relisnya yang diterima PapuaSatu.com, Minggu (10/06/2018).

Selain itu lanjutnya, di sejumlah media tersebut menyebutkan bahwa dirinya telah menyampaikan para pemain diduga kuat dibackup oleh oknum aparat kepolisian. Padahal, dirinya tidak mengatakan demikian.

Setelah beredar narasi atau pemberitaan dari sejumlah media online tersebut, menurut Muksin, pemberitaan-pemberitaan itu menimbulkan polemik.

“Saya tidak pernah menuturkan hal seperti itu, apalagi mengatakan oknum aparat,” bantahnya.

Lebih jauh lagi,  Muksin menceritakan, sebelumnya dirinya di datangi sejumlah orang yang mengaku sebagai wartawan di Kampung Nelayan untuk mewawancarinya. Tetapi tidak menggenakan ID card Perss atau kartu pengenal.

“Ada beberapa orang yang datang ke kampung nelayan dan melakukan pengambilan gambar,  dan wawancara,  tapi mereka tidak kenalkan dari mana asalnya, dan tidak kenakan kartu pengenal,” ujar Muksin.

Kemudian, kata dia,  keterangan sebenarnya yang dituturkannya (Muksin) hanya BBM langka, sehingga masyarakat nelayan mencari alternatif dengan berusaha mencari BBM enceran di pinggir jalan, karena agen sedang tidak memiliki stock BBM.

“Saya merasa sangat dirugikan,  mengingat hal ini telah di publikasikan, dan tanpa menyamarkan nama saya sebagai narasumber, karena ini saya menjadi sangat tersudut mengenai pemberitaan,” keluh Muksin.

Oleh dirinya merasa dirugikan, maka dia (Muksin) inginkan wartawan yang naikkan berita tersebut segera meralat dan meminta maaf kepada dia sebagai narasumber. [free]