Lakukan Eradikasi Kakao, Pemkab Keerom Kembangkan Sereh Wangi

0
84
Caption: Bupati Keerom Muh. Markum didampingi Kepala Bappeda Agus Salim dan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sunar saat memberikan sosialiasi budidaya sereh kepada petani.
Caption: Bupati Keerom Muh. Markum didampingi Kepala Bappeda Agus Salim dan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sunar saat memberikan sosialiasi budidaya sereh kepada petani.

KEEROM, PapuaSatu.com – Perkebunan beberapa tahun belakangan ini sudah tidak menjadi lagi komoditi yang mampu menggerak ekonomi masyarakat. Serangan hama peyakit terhadap tanaman kakao menjadi biang menurunnya hasil salah satu komiditi unggulan di Kabupaten Keerom ini.

Melihat kondisi tersebut Pemkab Keerom berencana melakukan eradikasi tanaman kakao secara bertahap. Dimana pemerintah akan melakukan intervensi kepada petani untuk mengatur saat masa tunggu hingga penanaman kembali tanaman kakao, diharapkan dengan begitu dapat memulihkan kondisi tanaman kakao.

Namun yang menjadi persoalan adanya rentan waktu sekitar dua tahun yang harus dilewati petani kakao agar lahannya bisa ditanami kembali. Rentan waktu inilah yang membuat Pemkab Keerom mengambil langkah alternative mengembangkan budidaya tanaman sereh wangi. Sehingga petani kakao tidak akan kehilangan mata pencaharian dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Untuk memuluskan pengembangan tanaman sereh wangi di Kabupaten Keerom, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun ini telah melakukan budidaya sereh wangi seluah 20 hekatar sebagai oilot projek dan pembibitan yang tersebar di Distrik Skanto dan Arso.

“Dari dua puluh hektar tersebut saya berharap dapat dikembangkan dan dibudidayakan menjadi 200 hektar sehingga akan membawa dampak yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian Kabupaten Keeromm,” ujar Bupati Keerom Muh. Markum dalam sambutannya saat Sosialisasi Budidaya Sereh Wangi yang berlangsung di Kabupaten Keerom, Kamis (05/09/2019).

Dipilihnya budidaya sereh wangi tidak terlepas dari nilai jualnya yang relatif lebih stabil, ditambah kondisi wilayah dan iklim di Keerom sangat mendukung pengembangan budidaya tanaman yang nantinya menghasilkan minyak atsiri ini.

Minyak atsiri sendiri banyak digunakan dalam industri kimia sebagai salah satu bahan baku produk wewangian, farmasi, kosmetik dan pengawetan barang hingga kebutuhan dasar industri lainnya.

“Indonesia merupakan negara produsen terbesar dan pengekspor utama atsiri didunia bahkan hingga kini permintaah minyah sereh wangi sangat tinggi dan harganya relatif stabil serta cenderung meningkat,” tutur Bupati dihadapan puluhan petani yang hadir.

Untuk mensukseskan rencana tersebut, kata Bupati, dirinya telah menugaskan Bappeda, Dinas Pertanian Perikanan dan Dinas Perindagkop untuk terus mengawal dan mendampingi petani secara intensif dalam pengelolaan budidaya sereh wangi serta proses penjualannya.

“Ini sudah ada investor yang akan masuk juga untuk membantu kita dan membangun pabrik. Jadi pabrik yang akan membeli hasil dari petani untuk diolah menjadi minyak astiri,” papar Bupati. [alf]