
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Memperingati hari Gizi Nasional ke-61, Dinas Kesehatan Provinsi Papua menggelar Dialog Kebijakan dengan tema ‘Tantangan Layanan Gizi Remaja Di Papua’ bersama UNICEF Kantor Papua-Papua Barat, GAPAI Papua, Dinas Pendidikan Provinsi Papua, BKKBN Provinsi Papua dan mitra.
Dalam sambutannya, Kepala UNICEF Kantor Papua-Papua Barat, Aminuddin Ramdan mengingatkan kembali bahwa di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di tahun 2020-2024 itu salah satu target utamanya adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pencegahan anak stunting dan strategi peningkatan kebijakan akses dan mutu pelayanan kesehatan.
“Peningkatan akses dan mutu pelayanam kesehatan ini salah satunya bisa dilakukan melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Sementara kita lihat sendiri mungkin pengalaman bapak/ibu di sekolah ada yang UKSnya itu masih belum optimal bahkan belum ada, untuk itu kami dari UNICEF mau mengajak terutama rekan-rekan dari intansi teknis yang terkait dengan UKS dan kepala-kepala sekolah untuk bisa lebih mengambil perhatian yang serius terhadap keberadaan atau optimalisasi peran UKS ini,” katanya melalui zoom meeting, Kamis (11/2).
Dilanjutkan, UKS bisa sangat memiliki potensi yang sangat bagus atau baik untuk bisa melakukan pembinaan sekolah sehat agar menjawab tantangan gizi remaja dan juga mendorong perilaku hidup bersih dan sehat di kelompok siswa atau pelajar di Provinsi Papua.
“Untuk itu saya mau ajak kembali lagi untuk bapak/ibu sekalian melalui UKS ini dan melalui perilaku hidup bersih dan sehat marilah kita sama-sama fokus kepada kelompok remaja karena remaja ini boleh dibilang sedang berada di usia emas mereka setelah 1.000 hari kehidupan pertama kelompok remaja menjadi sangat penting, terutama remaja perempuan di Papua karena usia 10-16 tahun di Papua banyak yang sudah menikah dan memiliki anak,” lanjutnya.
“Kalau nutrisi mereka tidak diperhatikan dengan baik semenjak mereka berada di bangku sekolah akan berpotensi kemudianĀ anak yg mereka lahirkan memiliki keterbatasan atau kekurangan baik dari gizi maupun mental orang tua karena belum siap memberikan informasi atau menangani anak dengan baik,” lanjutnya lagi.
Ia berharap kegiatan kali ini bisa difokuskan pada sharing informasi, dilanjutkan dengan langkah-langkah strategis dan nyata jadi tidak hanya sekedar berhenti didalam pertemuan tapi bisa ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata baik ditingkat sekolah, puskesmas, dinas, kabupaten dan instansi-instansi lain.
Sementara itu, Serketaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr Arry Pongtiku menjelaskan di Papua masih banyak kasus mengenai gizi seperti stunting (anak yang pendek), kekurusan dan juga anemia. “Banyak penyakit-penyakit penyerta di Papua ini yang masih sangat endemis terutama malaria yang dapat menyebabkam anemia kemudian juga masih ada kecacingan dan juga masalah pengetahuan yang kurang tentang gizi baik dari anak sendiri maupun dari orang tua,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, penting sekali untuk menyampaikan peran antara remaja, sekolah untuk aktifkan UKS sehingga remaja putri atau anak-anak remaja bisa terlibat dalam masalah kekurangan gizi. “Selain kekurangan gizi pada umumnya, ada juga masalah kelebihan gizi akibat makanan yang tidak seimbang dan kurang berolahraga. Kita mau anak-anak kita pada masa pertumbuhan bisa sehat dan tinggi dan tentu saja dapat menjadi anak-anak yang kuat,” ujarnya.
Pemateri pada dialog tersebut adalah Kasie Kesga dan Gizi Dinkes Provinsi Papua, Drg. Christine Siregar, M.Kes, Koordinator Bidang KSPK Perwakilan BKKBN Provinsi Papua, Drs. Djonny Suwuh dan Kepala Bidang Sosial Budaya BAPPEDA Provinsi Papua, Elias. [ayu]










