Tersangka Tambah Tiga Orang, Proses Hukum Kasus Kerusuhan 29 Agustus Mulai Mengerucut

0
101
Dir Reskrimum Polda Papua, Kombes Pol Tony Harsono didampingi Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal, saat member keterangan pers di Press Room Polda Papua, Senin (9/9/19)
Dir Reskrimum Polda Papua, Kombes Pol Tony Harsono didampingi Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal, saat member keterangan pers di Press Room Polda Papua, Senin (9/9/19)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Upaya penyelidikan dan penyidikan terkait kasus kerusuhan 29 Agustus 2019 di Kota Jayapura oleh aparat Polda Papua, mulai mengarah (baca : mengerucut) pada actor-aktor utamanya.

Hal itu, dibuktikan dengan penangkapan dan penetapan tiga orang tersangka, masing-masing berinisial VCD, AG dan FK, yang terindikasi sebagai pentolan organisasi KNPB ataupun ULMWP dalam beberapa hari terakhir di Sentani.

“Kita tangkap Tangal 4 September, ini adalah pelaku pengrusakan pada saat jalan demo dari Sentani menuju Jayapura, satu orang kita amankan dengan inisial VCD. Ini TKP-nya di Ruko Hawai,” ungkap Dir Reskrimum Polda Papua, Kombes Pol Tony Harsono didampingi Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal, di Press Room Polda Papua, Senin (9/9/19).

Aparat kepolisian mengantongi barang bukti berupa rekaman, pakaian berwarna biru yang dipakai tersangka pada saat melakukan aksinya, batu yang ada di TKP, dan satu karung berisi pecahan kaca ruko.

“Ini berasal dari penulurusan daripada rekaman-rekaman yang kita dapatkan,” jelasnya.

Sedangkan dua tersangka lagi, yakni AG (Alek Gombo) dan FK (Ferry Kombo), adalah dari pengembangan 28 tersangka yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka, penyidik Polda Papua.

“Mereka melakukan tindak pidana terhadap keamanan Negara, menyiarkan suatu berita, mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menimbulkan keonaran di dalam masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, tersangka juga melakukan penghinaan terhadap bendera, bahasa, lambang Negara serta lagu kebangsaan, penghasutan suatu kejahatan atau pembakaran dan pencurian dengan kekerasan di muka umum.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal 106 KUHP, junto Pasal 87 dan atau Pasal 110 KUHP.

Selain itu, juga dijerat dengan UU No. 1 Tahun 1946 tentang peraturan pidana, UU No 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa dan lambang Negara, kemudian Pasal 167 KUHP, serta UU Darurat No 12 Tahun 1951.

Dir Reskrim menyatakan kasusnya akan terus berkembang dalam pengungkapannya terhadap para perusuh yang terjadi di Kota Jayapura ini.

“Kita akan mengejar terus sampai pada puncaknya. Ini sudah mulai mengerucut. Jadi kita akan kejar semua sampai dibalik itu,” tandasnya.

Untuk total tersangka yang telah ditangkap dan ditahan di tiga wilayah, yakni di Kota Jayapura, Deiyai dan Timika ada 61 tersangka. Yakni 37 tersangka di Kota Jayapura, 14 tersangka di Deiyai dan 10 tersangka di Timika.[yat]