Cegah Konflik Rasisme, Pokja Perempuan MRP Ajak Masyarakat dan Pemkab Keerom Jaga Kedamaian

0
28
Caption : Foto Bersama Tim Pokja Perempuan MRP dan seluruh Komponen masyarakat serta Pemerintah.
Caption : Foto Bersama Tim Pokja Perempuan MRP dan seluruh Komponen masyarakat serta Pemerintah.

KEEROM, PapuaSatu.com  – Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP), mengajak masyarakat dan Pemerintah kabupaten Keerom untuk bersama-sama menjaga kedamaian.

Hal itu dilakukan agar bisa mencegah konflik di tengah-tengah masyarakat, yang selama ini terjadi di sejumlah kabupaten dan Kota Provinsi Papua dan Papua Barat.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Pokja Perempuan MRP, Ciska Abugau, A.Md.Pd, mengungkapkan, Pokja Perempuan MRP melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Keerom untuk bertemu langsung dengan masyarakat dan Pemerintah setempat, pada Jum’at  (20/09/2019).

“Kami ke Keerom ini karena kami prihatin dengan melihat situasi di tanah Papua. Kami ingin menyatukan persepsi karena masyarakat di tanah Papua saat ini tidak bisa hidup dengan tenang akibat masalah rasisme yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu,” kata Ciska usai pertemuan.

Ciska menginginkan dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan bisa membuahkan hasil, dengan harapan masyarakat di kabupaten Keerom bisa hidup rukun, bersatu dan damai antara yang satu dengan yang lain seperti yang tercipta selama ini,” ujarnya.

Dengan tema kunjungan yang dilakukan Tim Kunjungan Kerja Pokja Perempuan MRP ini Yakni “penyelamatan tanah dan Manusia Papua” dengan . Sub tema  “Sosialisasi Peran Perempuan Papua dan Upaya Memperjuangkan Persatuan dan Keadulan, serta berdemokrasi di Indonesia Khususnya di Papua”.

“Dengan tema ini, kami datang untuk memberikan penyematan bagi masyarakat yang ada di tanah Papua, khususnya di Kabupaten Keera. Termasuk Perempuan Papua agar memberikan pemahaman dan mendidik anak-anak serta mengajak anaknya untuk lebih maju tanpa harus melakukan tindakan yang tidak diingin orang tua,” ujarnnya.

Oleh sebab itu, pihaknya ingin meminta masukan dan pendapat dari seluruh komponen masyarakat, termasuk Perempuan Papua dan Pemerintah setempat. “ kami minta masukan, pendapat. Meman daerah ini aman, tapi secara batin mereka juga tidak aman, makanya kami bicara dari hati ke hati sehingga ada solusi memecahkan masalah yang selama ini terjadi,” tukasnya. [alf]