Tingkatkan Skill dan Dukung PON, Pemerintah Kota Jayapura Adakan Pelatihan Noken Untuk Pengrajin Asli Papua

0
55
Pembukaan pelatihan Noken yang digelar Disperindagkop Kota Jayapura di Balai Diklat Sosial Provinsi Papua, Kampkey, Selasa (5/11)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Guna meningkatkan skill dan mendukung PON XX tahun 2020, Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kota Jayapura melaksanakan pelatihan Noken, Selasa (5/11) di Balai Diklat Sosial Provinsi Papua, Kampkey-Jayapura.

Asisten I Setda Kota Jayapura, Evert Merauje mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk memberikan perhatian khusus kepada mama-mama yang berstatus sebagai pengrajin anyaman noken. “Karena itu adalah kelompok-kelompok usaha yang segmen pasarnya jelas.Orang butuh noken entah di Papua maupun orang dari luar datang semacam turis itu mereka mencari oleh-oleh. Ini juga dalam rangka mendukung PON XX tahun 2020 untuk dijadikan cenderamata,” katanya.

Maka, Pemkot mendorong adanya pelatihan ini sehingga ada inovasi-inovasi baru yang kreatif. “Mama-mama ini dibina, dilatih, sehingga hasilkan kreasi baru. Ada peningkatan dari bahan dasar, kuakitas bahkan produktifitas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disperindagkop, Robert Awi mengungkapkan, para peserta yang ikut dalam pelatihan noken terdiri orang asli Papua yang berasal dari 4 kampung. “Ada 4 kampung yaitu Nafri, Moso, Tobati dan Jayapura Utara. Ini bukan pengrajin baru, hasil karyanya sudah dipasarkan hanya kami ingin tingkatkam skillnya sehingga nantinya mereka dapat menghasilkan produk yang dapat bersaing kedepannya. Terlebih lagi pelatihan kepada pengrajin noken telah dilakukan terakhir pada 3 tahun lalu, jadi kami butuh penyegaran,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan selama 4 hari dan dibimbing oleh instruktur dari Jogja. Ditempat yang sama, Disperindagkop bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kota Jayapura melakukan pelatihan tempurung.

“Kami berharap dengan memberikan skill buat mereka agar produk yang dihasilkan betul-betul punya kualitas yang bagus dan dalam jumlah yang banyak dan tentunya akan menjadi aksesoris yang ringan, murah dan dalam jumlah yang banyak,” harapnya.

Terkait harga, Disperindagkop sering melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada pengrajin untuk menentukan harga jual berdasarkan pengeluaran atau komponen-komponen yang pengrajin keluarkan. “Hari ini ada sekitar ada sekitar kurang lebih sekitar 10 sampai 12 orang teman kita si pengrajin yang harganya jauh di bawah harga pasar. Kami dorong terus bahkan hasil karya mereka sudah kami pasarkan di outlet-outlet kami yang di bandara. Harganya bervariasi dan cukup murah mulai dari 25ribu rupiah hingga 200ribu rupiah,” tukasnya.[ayu]