
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kantor Perwakilan LPS III menyelenggarakan LPS Media Meet Up Papua 2026 pada Rabu (09/09/2026) sebagai upaya memperkuat sinergi dengan insan media dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat serta memperkuat kepercayaan publik terhadap industri perbankan.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam memperkuat edukasi mengenai literasi keuangan dan peran penjaminan simpanan bagi masyarakat di wilayah Papua.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Perwakilan LPS III, Fuad Zaen, mengapresiasi kehadiran insan media dalam kegiatan LPS Media Meet Up 2026 di Jayapura.
Menurutnya, media memiliki peran penting sebagai mitra strategis LPS dalam menyampaikan informasi mengenai program penjaminan simpanan serta mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat, khususnya di Papua.
“Di tengah derasnya arus informasi, jurnalisme yang berkualitas sangat penting, khususnya terkait isu perbankan, karena kepercayaan publik merupakan fondasi stabilitas sistem keuangan. Melalui pemberitaan yang akurat, edukatif, berimbang, dan mudah dipahami, rekan-rekan media dapat turut membantu meningkatkan literasi keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat di Papua terhadap industri perbankan,” ujar Fuad.
Dalam paparannya, Deputi Kepala Kantor Perwakilan LPS III, Prayitno Amigoro, menyampaikan bahwa hingga 31 Juli 2026, sebanyak 99,95% dari total 716,76 juta rekening nasabah di seluruh Indonesia telah dijamin penuh oleh LPS.
Capaian di wilayah Papua bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan angka nasional. Di wilayah Papua I, termasuk Kota Jayapura, sebanyak 99,96% dari 4,49 juta rekening dijamin penuh oleh LPS, sedangkan di wilayah Papua II, sebanyak 99,97% dari 2,10 juta rekening yang dijamin penuh oleh LPS.
“LPS menjamin simpanan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan kriteria simpanan layak bayar atau Syarat 3T, yakni simpanan nasabah tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga yang diterima nasabah tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS, dan nasabah tidak diindikasikan dan/atau terbukti melakukan pelanggaran hukum yang menyebabkan kerugian bank,” jelas Prayitno.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, LPS turut menghadirkan Indra Thamrin, Founder Teras Sehati Coffee Lab, dalam sharing session mengenai pengalamannya merintis kedai kopi dari teras rumah dengan modal minim hingga mampu bertahan dan berkembang sampai saat ini.
Ia membagikan pengalamannya dalam membangun usaha melalui adaptasi, mulai dari memanfaatkan platform digital untuk promosi di masa pandemi hingga menghadapi persaingan bisnis kopi yang semakin ketat.
“Banyak pengusaha hanya melihat hasil penjualan bulanan tanpa mengetahui seberapa besar keuntungannya. Akibatnya, sering terjadi kebocoran dana dan berujung pada kerugian, padahal usahanya terlihat ramai. Oleh karena itu, pembukuan menjadi sangat penting,” pungkas Indra.
Indra menekankan pentingnya kedisiplinan pembukuan untuk menjaga arus kas melalui tiga pos keuangan, yaitu rekening operasional untuk penghasilan harian, rekening profit untuk kebutuhan pengembangan usaha, serta dana darurat sebesar 20% dari profit bulan sebelumnya untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan yang baik perlu didukung oleh ekosistem keuangan yang memberikan rasa aman. Di sinilah LPS hadir melalui program penjaminan simpanan di perbankan.
Dengan mengetahui tabungannya aman dijamin oleh LPS, pelaku UMKM dapat lebih tenang mengelola dananya di bank, sehingga dapat fokus menjaga keberlangsungan dan mengembangkan usahanya.
Melalui sinergi dengan insan media dan berbagai pihak, LPS berharap edukasi mengenai literasi keuangan dan program penjaminan simpanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Meningkatnya pemahaman publik diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif serta berkelanjutan.[yat]










