Puluhan Masyarakat Sentani Ikut Pelatihan KSR PMI

SENTANI, PapuaSatu.com – Sebanyak 20 masyarakat Sentani kabupaten Jayapura mengikuti Pelatihan Korps Sukarelawan (KRS) Angkatan Ke-II Tahun 2017 dalam acara penutupan pelatihan KSR di Aula Balai Trans, Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (14/9/2017) sore.
Sebelum penutupan, para peserta mengadakan simulasi pertolongan pertama pada bencana alam yang disaksikan oleh Sekretaris PMI Cabang Kabupaten Jayapura dr. Raflus Doranggi, Wakil Ketua Bidang PMR pada PMI Provinsi Papua Ramli Tarigan, perwakilan Basarnas dan pengurus PMI Cabang Kabupaten Jayapura.
“Ini adalah pelatihan rekruitmen relawan PMI Kabupaten Jayapura yang direkrut sebagai relawan-relawan itu dari beberapa distrik, yakni ada dari Distrik Sentani Timur, Distrik Sentani, Distrik Ebungfauw, Distrik Waibhu dan Distrik Sentani Barat, kata Sekretaris PMI Cabang Kabupaten Jayapura, dr. Raflus Doranggi, kepada wartawan usai menutup secara resmi kegiatan Pelatihan Korps Sukarelawan (KSR) Angkatan ke-II Tahun 2017, Kamis (14/9/2017).

Pelatihan yang diberikan kepada para peserta ini selama 125 jam untuk mereka menjadi Korps Sukarelawan (KSR) PMI Cabang Kabupaten Jayapura. Dimana mereka tim relawan yang disap diterjunkan ke lapangan untuk membantu pada saat terjadi bencana baik di Kabupaten Jayapura maupun di daerah lain.

“Jadi, mereka disiapkan untuk membantu ketika ada bencana dan harus siap menjadi relawan-relawan yang bisa diterjunkan ke daerah yang terkena bencana. Jika tidak terjadi bencana mereka akan terus melakukan pelatihan dan juga membantu kegiatan-kegiatan PMI lainnya,” kata Raflus.

Raflus menjelaskan, para peserta mendapatkan materi-materi tentang pertolongan pertama, seperti materi tentang assesment (jika terjadi bencana apa yang harus mereka lakukan), materi tentang bagaimana menangani orang yang mengalami kecelakaan seperti patah tulang dan cara mengangkat korban  ketika terjadi bencana.

“Jadi, ini hanya pelatihan KSR dasar. Nanti ada pelatihan KSR lanjutan ditingkat spesialisasi seperti spesialisasi logistik, spesialisasi untuk pertolongan pertama da spesialisasi bongkar pasang tenda. Sedangkan untuk instruktur dalam pelatihan ini ada instruktur yang bersertifikat untuk pertolongan pertama dan juga ada dari dokter spesialis bedah yang melatih para peserta,” jelasnya.

Untuk itu, Raflus berharap kepada para peserta agar bisa terus mengerjakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan kedepan karena mereka inikan tidak dibayar dan bekerja dengan setulus hati sehingga harus terus mengasah kepedulian sosial mereka terhadap masyarakat. (Piet/Nius)