
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Wakil Bupati Jayapura Haris Richard Yocku, S.H. mengapresiasi Festival Colo Sagu yang digelar anak muda Papua.
Ia menyebut festival ini bukti pergeseran aksi anak muda dari turun ke jalan menjadi berkarya lewat pangan lokal.
Pernyataan itu disampaikan Wabup Haris saat diwawancarai wartawan di Arena Festival Colo Sagu (FCS) Ke-3, di halaman belakang Kantor DPR Papua, Kota Jayapura, Minggu (21/6/2026).
“Pada prinsipnya festival ini untuk menghidupkan pangan lokal. Saya bangga saya senang sekali karena ide kreatif dari anak-anak muda sekarang mulai bergeser yang tadinya mereka suka turun melaksanakan demo di pinggir jalan, hari ini mereka melakukan demo itu lewat kegiatan-kegiatan kreatif,” ujar Haris.
Haris berharap festival berbasis sagu ini terus berlanjut. Ia menegaskan Pemkab Jayapura siap berkolaborasi dengan komunitas kreatif.
“Saya berharap kegiatan ini terus berjalan. Kami dari pemerintah daerah Kabupaten Jayapura akan terus berupaya berkolaborasi supaya kegiatan-kegiatan seperti ini terus berjalan,” katanya.
Menurutnya, Festival Colo Sagu sudah tiga kali digelar dan terus bertumbuh.
“Kalau kemarin pernah dilaksanakan di Kabupaten Jayapura, kemudian yang kedua di Kota Jayapura dan hari ini mereka lakukan yang ketiga kali di halaman kantor DPR, saya percaya ke depan dia akan bertumbuh lebih baik lagi.”
Wabup menyoroti tingginya minat masyarakat pada makanan lokal. Ia mendorong pelaku UMKM lebih percaya diri.
“Minat masyarakat untuk melihat kreatifitas lokal hari ini kita tidak bisa tutup mata sebelah, karena hari ini orang sedang mencari makanan-makanan lokal paling banyak. Oleh karena itu saya pesan kepada semua pelaku usaha jangan malu, jangan minder, tidak boleh malu, tidak boleh minder, silahkan jajakan saja kalian punya makanan lokal pasti ada yang beli,” pesannya.
Terkait pelestarian sagu, Haris menyebut Pemkab Jayapura sudah aktif edukasi masyarakat. Ke depan, ia wacanakan program unik: wajib tanam sagu bagi yang menikah.
“Terkait pengembangan dusun sagu di Kabupaten Jayapura kami sudah melakukan. Ada beberapa kali kami lakukan semacam kunjungan kemudian informasi kepada masyarakat untuk tidak boleh mendapatkan sagu dengan sembarang, terus kami juga sampaikan kepada anak-anak muda untuk terus menanam sagu,” jelasnya.
“Bahkan mungkin ke depan kami akan buat satu program, untuk setiap orang yang mau menikah anak Papua yang mau menikah, itu wajib harus tanam satu pohon sagu. Jadi dengan demikian kesadaran masyarakat untuk terus memelihara pohon sagu terus kita jaga,” lanjutnya.
Ia menutup dengan menekankan filosofi sagu. “Karena sagu ini bukan cuma sekedar makanan pokok tapi sagu itu merupakan jati diri kita sebagai orang Papua,” pungkasnya.[Yat]










