
JAYAPURA, PapuaSatu.com -Ancaman terhadap keberlanjutan sagu di Papua tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan identitas, budaya, dan masa depan pangan masyarakat Papua.
Ketua Panitia Festival Colo Sagu, Michael Jhon Yarisetouw, menegaskan bahwa perlindungan sagu tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kebijakan pemerintah tanpa adanya gerakan sosial yang melibatkan masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Kalau sagu hilang, maka yang hilang bukan hanya satu jenis pangan, tetapi bagian dari identitas orang Papua,” tegas Michael.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangka Seminar Sagu Papua 2026 yang digelar oleh Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026.
Seminar ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa sagu merupakan kekayaan ekologis, budaya, sekaligus fondasi ketahanan pangan Papua.
Michael menjelaskan, gerakan Colo Sagu yang berkembang sejak 2023 lahir dari keprihatinan terhadap semakin meningkatnya tekanan terhadap hutan sagu Papua.
Perubahan fungsi lahan, pembangunan yang tidak selalu berpihak pada ruang hidup masyarakat adat, serta menurunnya minat generasi muda terhadap pangan lokal menjadi tantangan besar yang harus segera dijawab.
“Sagu bukan hanya pohon yang menghasilkan makanan. Sagu adalah bagian dari sejarah, adat, dan cara hidup orang Papua. Ketika hutan sagu hilang, kita kehilangan ruang yang menyimpan identitas kita,” ujarnya.
Menurut Michael, persoalan terbesar hari ini bukan hanya berkurangnya kawasan sagu, tetapi juga melemahnya pengetahuan generasi muda tentang sagu.
Ia menilai banyak anak muda Papua mulai semakin jauh dari proses mengenal, mengelola, dan memanfaatkan sagu sebagai kekuatan lokal.
Padahal, keberlanjutan sagu sangat bergantung pada bagaimana generasi penerus memahami nilai penting tanaman tersebut.
“Kalau generasi muda tidak lagi mengenal sagu, maka pengetahuan yang diwariskan leluhur bisa hilang. Kita bisa kehilangan bukan hanya sumber pangan, tetapi juga warisan budaya,” katanya.
Karena itu, Michael mendorong mahasiswa dan pemuda Papua untuk mengambil peran lebih besar dalam penelitian, inovasi, kampanye lingkungan, serta advokasi perlindungan kawasan sagu.
Dalam upaya memperkuat kesadaran tersebut, Yayasan Colo Sagu Nusantara terus mendorong gerakan Saguisme sebagai semangat untuk mengembalikan sagu sebagai simbol kedaulatan pangan Papua.
Menurut Michael, Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang mampu menjadi kekuatan menghadapi tantangan masa depan, termasuk perubahan iklim, ketahanan pangan, dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Sagu harus kembali menjadi kebanggaan orang Papua. Kita tidak boleh menjadi asing terhadap kekayaan yang selama ini menopang kehidupan kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan sagu juga dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat melalui inovasi produk olahan, penguatan usaha lokal, serta pemberdayaan masyarakat adat.
Melalui Seminar Sagu Papua 2026, Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota mengajak pemerintah, akademisi, masyarakat adat, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan sagu.
Michael berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi gerakan nyata yang mendorong perubahan di tengah masyarakat.
“Kita tidak sedang menjaga masa lalu saja. Kita sedang menjaga masa depan Papua. Menjaga sagu berarti menjaga identitas, budaya, dan kehidupan generasi berikutnya,” pungkasnya.[Yat]










