BPS : Pemerintah Perlu Mewaspadai Penurunan Produksi Ikan

0
146
Kepala BPS Papua, Simon Sapari (tengah) saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS), di kantornya, Selasa (11/6/2019)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kelompok bahan makanan yang mendominasi terjadinya inflasi maupun deflasi di dua kota yang dijadikan sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK) di Papua, yakni Kota Jayapura dan Kota Merauke, Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti pemerintah agar waspada.
“Pemerintah perlu mewaspadai terhadap penurunan produksi ikan (hasil budidaya maupun tangkap), keterlambatan stok di pasar, serta hambatan produksi-distribusi barang lainnya,” ungkap Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Selasa (11/6/2019).
Diungkapkan, bahwa dari hasil pemantauan BPS Provinsi Papua selama Mei 2019 menunjukkan bahwa di Kota Jayapura terjadi inflasi sebesar 1,13 persen.
Kondisi tersebut berbeda dengan bulan sebelumnya dimana bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,26 persen.
Diantara faktor pemicu terjadinya inflasi adalah kenaikan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu: angkutan udara sebesar 0,650 persen, bawang putih sebesar 0,202 persen, bawang merah sebesar 0,179 persen, ikan kembung sebesar 0,079 persen, kangkung sebesar 0,056 persen, ikan cakalang sebesar 0,046 persen, cabai rawit sebesar 0,037 persen, sawi hijau sebesar 0,018 persen, ikan salam sebesar 0,018 persen, tomat sayur sebesar 0,016 persen, dan beberapa komoditas dominan lainya.
Secara umum inflasi tersebut masih didominasi oleh pengaruh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan (ikan dan sayuran) yang memberikan andil 0,589 persen terhadap total inflasi di Kota jayapura.
Sementara itu di Merauke selama Mei 2019 terjadi deflasi sebesar 0,49 persen. Kondisi tersebut bertolak belakang dibandingkan kondisi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,20 persen.
Diantara faktor pemicu terjadinya deflasi adalah penurunan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu: bayam sebesar 0,293 persen, kacang panjang sebesar 0,271 persen, cabai rawit sebesar 0,212 persen, ikan kembung sebesar 0,196 persen, beras sebesar 0,190 persen, tarif pulsa ponsel sebesar 0,135 persen, cabai merah sebesar 0,099 persen, udang basah sebesar 0,073 persen, daging ayam ras sebesar 0,072 persen, bahan bakar rumah tangga sebesar 0,038 persen, dan beberapa komoditas dominan lainya.
Secara umum deflasi tersebut didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dengan andil mencapai 0,349 persen terhadap total deflasi di Merauke.
Lebih lanjut, di Kota Jayapura perkembangan inflasi tahun berjalan Mei 2019 mencapai 1,36 persen. Pencapaian ini lebih rendah dan terkendali dibandingkan Mei 2018 yang sebesar 2,78 persen.
Selain itu inflasi year on year (yoy) Mei 2019 sebesar 5,23 persen dan relatif lebih tinggi dibandingkan yoy Mei 2018 yang sebesar 4,36 persen.
Adapun di Merauke inflasi tahun berjalan Mei 2019 mencapai -1,12 persen.
Pencapaian ini jauh lebih rendah dibandingkan Mei 2018 yang sebesar 4,04 persen.
Adapun inflasi year on year (yoy) Mei 2019 sebesar 0,19 persen dan relatif lebih rendah dibandingkan yoy Mei 2018 yang sebesar 2,78 persen.
BPS Provinsi Papua menilai bahwa berdasarkan pantauan inflasi month-to-month tersebut memberikan sinyal bahwa capaian inflasi di Kota Jayapura mencapal dlatas 1 persen, sehingga memerlukan campur tangan pemerintah agar harga relatlf terkendali.
Adapun di Merauke gejala deflasi yang berbeda dengan pole inflasi kota-kota lainnya, diperlukan kajian lebih lanjut sebagai pilot studi pengendalian inflasi pada momen hari raya.
Selain itu, dari hasil inflasi year on year khususnya di Kota Jayapura menunjukkan bahwa pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kedepan dengan usaha ekstra agar capaian inflasi berada pada kisaran target yang telah ditentukan sebesar 3,5±1 persen.
Berbeda halnya dengan Merauke, capaian inflasi year on year selama dua tahun terakhir relatif terkendali.[yat]