Kontraksi Pertumbuhan Ekonomi Papua Triwulan II-2019 Makin Dalam

0
91

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Dari data statistik yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, kontraksi (penurunan) pertumbuhan ekonomi di Papua masih terjadi dan makin dalam.

Hal itu setelah pada triwulan I-2019 terkontraksi sebesar -20,13 persen (y-on-y), di triwulan II-2019, kontraksi semakin dalam, yaitu -23,98 persen (y-on-y).

Yang mana, perekonomian Papua herdasarkan hesaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2019 mencapai Rp 45,29 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 31,86 triliun.

“Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan disebabkan karena kategori pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan hingga -57,48 persen,” ungkap Kepala BPS Papua, Simon Sapari didampingi Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua, Eko Mardiana saat merilis Berita Resmi Statistik (BPS) di kantornya, Senin (5/8/19).

Dari sisi Pengeluaran, kontraksi pertumbuhan disebabkan oleh oleh Komponen Ekspor Luar Negeri yang mengalami penurunan sebesar -84,34 persen.
Namun, bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi Papua triwulan II-2019 sedikit mengalami peningkatan pertumbuhan, yakni sebesar 0,57 persen.

“Hal tersebut disebabkan karena hampir semua kategori mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II 2019,” jelasnya.

Sementara dari sisi pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang meningkat signifikan, yaitu sebesar 6,85 persen.

Diungkapkan bahwa PDRB per kapita pada Triwulan II-2019 mencapai Rp 13,4 Juta. Sementara PDRB Perkapita Tanpa Pertambangan dan Penggalian sebesar Rp. 10,54 Juta.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi yang dominan dipengaruhi oleh menurunnya komponen eksport luar tersebut, kata Simon Sapari, diharapkan secara perlahan akan pulih setelah operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) PT Freeport beroperasi normal, yang diperkirakan mulai beroperasi pada Triwulan III 2019 ini.

Namun saat disinggung tentang komponan masyarakat mana yang paling merasakan dampak kontraksi pertumbuhan ekonomi Papua, Simon Sapari menyatakan bahwa pihaknya belum melakukan analisa tentang hal tersebut.

“Kita hanya menyajikan data pertumbuhan ekonomi, yang didasarkan pada data yang masuk,” ungkapnya.[yat]