
SENTANI, PapuaSatu.com — Semangat para mama-mama Papua dalam mengangkat potensi alam lokal menjadi produk bernilai ekonomi patut diacungi jempol. Salah satunya dilakukan oleh Sipora Novita Serontouw dari UMKM Walri Masata Papua yang tampil di Pra FDS ke-XV dan akan terus menampilkan produk-produknya di FDS ke-XV tanggal 3-5 September 2026 nanti.
Mengandalkan kekayaan alam tanah kelahiran, yakni tanaman sagu yang melimpah, diolahnya menjadi aneka produk pangan yang sangat diminati banyak orang.
“Kita lihat potensi alam di Papua, ada sagu melimpah, sehingga kami coba memberdayakan dan membuat sagu menjadi berbagai macam olahan dengan mengikuti beberapa pelatihan,” ungkap Sipora Serontouw saat ditemui di salah satu stand di Pra FDS ke-XV di kawasan wisata Kalkote, Sabtu (29/8/26).
Usaha pengolahan sagu ini telah dirintis Sipora sejak tahun 2017. Berbekal tekad dan sejumlah pelatihan yang diikuti, ia terus mengembangkan sagu menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kini, di rumah produksi yang berlokasi di Kampung Maribu, Distrik Sentani Barat, timnya memproduksi beragam olahan sagu, antara lain: tepung sagu, martabak mini sagu, sagu gula merah, bengkeng sagu, kue putar sagu, biskuit sagu, stik sagu, keripik sagu, hingga kerupuk sagu.
Produk-produk tersebut telah dipasarkan di berbagai toko di kawasan Sentani dan daerah lainnya, termasuk tersedia di gerai-gerai di sekitar kawasan Bandara Sentani.
Selain menyajikan aneka olahan sagu, mereka juga menyediakan kopi dan teh sebagai pendamping agar pengunjung dapat lebih menikmati sagu bakar yang menjadi andalan mereka.
“Kita menjual tambahan minuman, ada kopi dan teh, jadi kita menyiapkan orang untuk menikmati sagu bakar,” ujar Sipora.
Untuk mengikuti pameran FDS ke-XV ini, Mama Sipora menyiapkan modal sekitar Rp5 juta. Meski tidak sedikit, harapannya besar agar produk olahan sagu khas Papua semakin dikenal masyarakat luas.
Di samping kesuksesan yang diraih, Sipora menyampaikan harapan agar pemerintah lebih memperhatikan pelaku usaha lokal. Ia berharap ada pendataan yang rapi dan khusus bagi para pelaku UMKM.
“Harapan kami, pemerintah Kabupaten Jayapura sudah punya data khusus tentang UMKM. Sehingga ketika ada kegiatan seperti ini, UMKM yang sudah terdata bisa diprioritaskan. Kami berharap pemerintah memiliki data UMKM yang lebih terdata, sehingga pelaku usaha lokal dapat memperoleh kesempatan yang lebih merata dalam kegiatan pameran,” tambahnya.
Kisah Sipora Novita Serontouw menjadi bukti bahwa dengan memanfaatkan potensi alam sendiri, berani berinovasi, dan terus belajar, mama-mama Papua mampu bangkit dan mandiri melalui usaha olahan sagu.[redaksi]










