Bahas Pola Kemitraan, PT. RML Temui Pemkab Jayapura

0
1377

SENTANI PapuaSatu.com –  PT. (Persero Terbatas) Rimba Matoa Lestari, salah satu perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit bertemu Pemerintah Kabupaten Jayapura, untuk membahas pola kemitraan terhadap pengelolaan kebun milik masyarakat.

Pertemuan ini disambut langsung oleh Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro bersama didampingi pimpinan OPD di Aula Lantai I Kantor Bupati Gunung Merah, Sentani Kabupaten Jayapura, pada Jumat (16/3/2018) siang.

Kepada wartawan, Giri menjelaskan, pertemuan tersebut untuk membahas tentang perkebunan kelapa sawit. Dimana pola kemitraan yang dibangun agar masyarakat yang memiliki  kebun sendiri wajib mendapatkan 20 persen dari hasil kebun Sawit itu sendiri.

“Capaian yang dimiliki masyarakat nantinya agar mereka bisa merasakan dari kehadiran perusahaan kelapa sawit. Jadi kewajiban perusahaan yang diberikan kepada masyarakat selaku pemilik hak ulayat sebesar 20 persen,” katanya.

Disamping itu, masyarakat selaku pemilik hak ulayat bisa bergabung dalam koperasi agar mereka bisa memiliki badan usaha dari perkebunan kelapa sawit itu sendiri. “Jadi, badan usaha yang dimiliki bukan milik orang lain tapi milik mereka sendiri,” paparnya.

Menurut Giri, jikalau hasil kebun Sawit diperjual belikan melalui per orangan maka masyarakat yang merasa dirugikan. “Kasihan masyarakat kalau diperjualbelikan ke orang lain. Ini kolektif sekali, kita tidak boleh perjual belikan dari orang ke orang. Biarlah masyarakat yang menjualnya sehingga mereka juga bisa merasakan hasil dari kebun itu sendiri. Kan hasilnya kembali juga ke perusahaan,” tukasnya.

Kendati demikian, pertemuan yang dilakukan dengan PT. Rimba Matoa Lestari masih dalam pembahasan. “Kami masih pelajari baik buruknya dan apabila sudah sesuai maka baru dilakukan penandatanganan  MoU,” katanya.

Manajer Government Relation di P.T. Rimba Matoa Lestari, Fanny mengatakan, pertemuan ini untuk membahas pola kemitraan antara perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Rimba Matoa Lestari dengan salah satu koperasi yang telah dibentuk di Distrik Unurum Guay.

“Jadi, kita menawarkan pola kemitraan kepada masyarakat karena kita adalah perusahaan pionir atau perusahaan pertama, sehingga kita perlu memberikan penjelasan dan juga pemahaman kepada Pemda setempat,” ujarnya

Namun pada dasarnya, mengenai keseluruhan yang akan dikerjakan perusahaan selama satu siklus diperkisakan bisa mencapai 25-30 tahun. “Jadi kita perlu paparkan apa yang akan kita laksanakan selama 30 tahun ini,” ujarnya. [tyi/sony]