Apakah Purtier Gantikan ARV?, Ini Kata Ketua KPA Provinsi Papua

0
1180
Caption : Ketua Harian KPA Papua Yan Matuan didampingi Koordinator Devisi Kerohanian KPA Provinsi Papua Pdt Jet Yoku saat memberikan keterangan pers di Sentani-kabupaten Jayapura Jumat 10 Mei 2019
Caption : Ketua Harian KPA Papua Yan Matuan didampingi Koordinator Devisi Kerohanian KPA Provinsi Papua Pdt Jet Yoku saat memberikan keterangan pers di Sentani-kabupaten Jayapura Jumat 10 Mei 2019

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Karena mendapat sorotoan public terkait pembagian Purtier Plasenta kepada pengidap HIV atau ODHA, Ketua KPA Provinsi Papua, Yan Matuan pun angkat bicara.

Dikatakan, bahwa setelah ia dilantik oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe pada pertengahan Bulan Desember 2018 satu pesan yang paling ditekankan oleh Gubernur pada saat melantik adalah “Selamatkan yang sisa dari yang tersisa”.

“Saya sebagai ketua harian, saya bukan orang yang berlatar belakang medis, saya seorang awam saja, tetapi pesan yang kami tangkap dari Ketua Umum, dalam hal ini Bapak Gubernur dan setelah mendapat informasi dari Dinas Kesehatan bahwa per Desember 2018, jumlah penderita AIDS mencapai 39 ribu lebih. Menurut saya, ini merupakan angka yang fantastis,” tuturnya, Jum’at 10 Mei 2019 di Sentani kabupaten Jayapura.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan situasi yang sangat bahaya sekali, dengan jumlah Orang Asli Papua (OAP) yang sangat sedikit, sementara ditambah lagi dengan pengidap HIV yang terlalu tinggi. “Dan kami tiba-tiba ditunjuk Pak Gubernur untuk mengerjakan misi yang besar itu,” ujar Yan Matuan.

Yan Matuan pun secara pribadi berupaya mendapat masukan dari pihak-pihak lain, diantaranya dari para hamba-hamba Tuhan (pendeta), dari paramedis,  ataupun dari para penggiat-penggiat kesehatan (LSM).

Salah satu upayanya, yakni dengan melakukan kegiatan ibadah-ibadah. “Saya mendapat penjelasan dari Dinas Kesehatan maupun para dokter bahwa fungsi ARV yang selalu dikonsumsi oleh para pengidap HIV, hanya menekan dan tidak membunuh virus. Selebihnya saya tidak tahu, tetapi itu keterangan dari paramedis,” ungkpnya.

Yan Matuan pun terus berupaya mencari keterangan dari para medis atau dokter yang berpengalaman dalam penanganan kasus HIV, terutama di Dinas Kesehatan dan bertanya-tanya, apakah ada finalnya? atau apakah ODHA minum obat ARV ada selesainya?.

“Kan kalau kita minum obat ada selesainya. Tapi kata dokter ataupun para pemateri bahwa itu hari-hari minum terus, karena dia hanya menekan virus,” terangnya.

Karena itu, Yan Matuan berpikir untuk mencari kemungkinan adanya cara lain untuk menyembuhkan pengidap HIV.

Bahkan Gubernur Papua pun melontarkan pertanyaan pada pertemuan dengan seluruh para relawan di Ekspo Waena yang menyatakan “ Orang Papua tinggal sedikit. Apakah ada jalan lain  untuk menyembuhkan penderita HIV?. Kalau ada yang bisa menyembuhkan kenapa tidak bisa di cari jalan keluar”.

“Bahasa itulah terus membuat hati tergerak untuk selalu mencari jalan keluar bagaimana orang papua bisa selamat dari penyakit HIV. Itulah kemudian kita cari jalan dan minta informasi, ketemulah dr. Manangsang. Beliau memberi informasi terkait dengan Purtier Plasenta ini,” jelasnya.

“Purtier ini saya tidak tahu, dan setelah saya tanyakan ternyata purtier ini mahal sekali. Kita mendapatkan gratis satu, dan kita mencoba kita kasih ke pasien. Menurut pasien dia agak enak, ada perbandingan antara setelah sekian lama minum ARV dengan minum obat (Purtier) ini,” lanjutnya bercerita.

Mengetahui kondisi tersebut, Yan Matuan berpikir bahwa konsumsi Purtier merupakan solusi yang bagus, sehingga kemudian dana KPA dianggarkan untuk membeli Purtier Plasenta, karena dinilai sangat membantu para ODHA.

“Jadi bagi KPA kembali ke pesan-pesan Gubernur. Kalau urusan ini bagus, ini illegal, itu urusan paramedis. Tapi kami para pasien dan masyarakat awam ini yang penting apapun yang sembuhkan manusia, itu harus kasih, kebetulan selain ARV, Purtier ini bisa menolong pasien, bukan hanya HIV tapi juga penyakit-penyakit lain,” tuturnya.

Yan Matuan pun berpikiran, bahwa para dokter dan para pejabat di Papua ini harus jujur tentang kelebihan ataupun kekurangan dari produk Purtier tersebut.

Sebab menurutnya, pada kesempatan ini kepada para kepala daerah, terkait Pergub No 08 Tahun 2010 tentang struktur KPA, itu berlaku di 29 kabupaten/kota, dana itu bisa dipakai untuk beli itu suplemen dan ARV untuk sembuhkan orang yang terinveksi HIV.

“Jangan hanya tergantung ke KPA. KPA ini kan berapa uangnya?, 80 persen kan sudah dialokasikan ke kabupaten-kabupaten. Jadi saran saya begitu,” lanjutnya.

Disinggung tentang pernyataan bahwa ada gerakan meninggalkan ARV setelah mendapat Purtier Plasenta, dan bahkan ada satu orang yang meninggal, Yan Matuan menegaskan, bahwa yang bisa menyatakan hal itu harusnya adalah para ODHA sendiri yang mengkonsumsi.

“Karena mereka yang minum barang ini, bukan dokter, bukan penggiat itu. Mereka (pengiat dan dokter) kan tidak pernah minum,” tandasnya.

Kalu memang para ODHA tidak bersedia minum ARV, maka tidak ada yang bisa memaksa.  “Dia bilang tidak mau ya sudah, tidak bisa tambah-tambah lagi. Tidak bisa dipaksa,” ungkapnya.

Di kesempatan sama, Jed Piter Yoku, sebagai hamba Tuhan yang mendapat tugas membagikan Produk Purtier Plasenta kepada para ODHA yang disebutnya sebagai tamu-tamu khusus, sudah banyak yang merasa tertolong.

“Ada yang berjamur bibir mulutnya, kami telah tolong mereka dan hari ini mereka telah sehat, tapi tidak ada perintah dari Bapak Ketua KPA Provinsi untuk hentikan ARV,” tegasnya.

Sehingga pihaknya yang diberi tugas membawa Purtier ke kampung-kampung, juga mengatakan agar para ODHA untuk tidak berhenti minum ARV.

“Tapi pakai ini sebagai suplemen, saat anda merasa enak silahkan teruskan, dan jangan lupa minum ARV-nya,” jelasnya.

Dan direncanakannya, nanti ada program dari KPA Papua, bahwa yang memakai obat-obat ini akan dikumpulkan dan akan dites darahnya oleh dokter yang berwenang, untuk bias mengetahui hasil yang pastinya.

“Dan obat ini (Purtier), sudah ada hasilnya, kita baru ribut satu tahun ini, sementara di luar negeri, majalah dan news speaker di luar negeri telah katakan bahwa ini  telah menyembuhkan banyak orang yang sakit AIDS di Amerika,” ungkapnya.

Sehingga dilakukan penelitian di Amerika, Australia dan Newzeland, untuk bagaimana Purtier Plasenta bias dijadikan dalam bentuk kapsul, sehingga bias dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

“Kenapa saya bias katakana seperti itu, karena saya bias bahasa asing. Latar belakang saya seorang guide (pemandu wisata), sampai saat ini saya diberi gelar senior guide of Indonesia, sudah beberapa kali sebagai ketua tim delegasi Indonesia untuk Eropa, dalam hal Festival Danau Sentani (FDS),” ungkapnya.

Diungkapkan bahwa di daerah Arso sudah ada 14 orang yang ditemui dan diberi Purtier Plasenta, di daerah Sentani ada 36 orang, di Sentani Timur ada sekitar 200 orang, dan di Lembah Grime ada 48 orang.

Diceritakan, bahwa ada satu hamba Tuhan di Genyem yang saat pakai ARV mengalami efek gelisah dan efek-efek lainnya, sehinga menghentikan minum ARV dengan sendirinya.

Bahwa sempat mengungkapkan kepada keluarganya, bahwa usianya tinggal menghitung satu atau duua hari. “Sekarang sudah bias kebun dan lain sebagainya, dan enak sekali. Dan ini banyak sekali kenyataan di lapangan,” ceritanya.

Pihaknya pun telah menyiapkan 10 orang yang akan bersaksi di hadapan gubernur, yang akan mengungkapkan bahwa setelah mengkonsumsi Purtier Plasenta bisa sembuh  dan telah dites oleh dokter.[yat]