
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua melaksanakan tiga tahapan langkah untuk mencegah stunting atau gizi kronis.
Sebagai ketua penanggung jawab penanggulangam angka stunting di Indonesia, langkah awal yang diambil oleh BKKBN adalah pendataan keluarga.
“Selama 5 tahun sekali rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2021-2024 sedang kita lakukan, kita harap harus ada data basis karena data keluarga sangat penting untuk menjadi acuan rencana awal program-program. Berbeda dengan sensus penduduk nasional, pendataan keluarga itu lebih spesifik yang akan dilakukan awal bulan April hingga 31 Mei 2021,” ujar Kepala BKKBN Provinsi Papua, Charles Brabar, SE., M.Si., kepada awak media diruang kerjanya, Senin (1/3).
Langkah berikut adalah melakukan program spesifik seperti pembangunan keluarga dan keluarga berencana. “Stunting bukan program pengobatan tapi pemberian informasi kepada keluarga-keluarga sehingga perilaku hidup sehat bisa sampai ke keluarga-keluarga agar bisa hindari resiko kurang darah sampai kurang gizi,” katanya.
Tak hanya bayi atau balita saja, Charles tambahkan remaja juga perlu diperhatikan terlebih lagi remaja perempuan. “Anak gadis itu harus diperhatikan dari bayi sampai gadis karena kita siapkan remaja untuk sehat, jangan sampai anemia. Kalau sudah anemia, dia akan alami kekurangan gizi. Jadi tentunya kita harus perkuat,” tambah Charles.
Selanjutnya langkah terakhir adalah persiapan data stunting karena setiap daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk secara vertilitas harus menyiapkan data.
“Setelah melakukan sosialisasi kepada kader dilapangan, data ini akan dikaji untuk melakukan pelaksanaan stunting kedepannya. Stunting sangat penting karena itu harus dijabarkan secara luas dan harus sudah mulai dipetakan,” tukasnya.[ayu]










