BKSDA Melepasliarkan 17 Satwa Hasil Sitaan dan Penyerahan Dari Masyarakat

357
Suasana pelepasliaran satwa hasil sitaan dan penyerahan masyarakat di kawasan cagar alam Cycloop, Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Sabtu (14/03/20)
Suasana pelepasliaran satwa hasil sitaan dan penyerahan masyarakat di kawasan cagar alam Cycloop, Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Sabtu (14/03/20)

SENTANI, PapuaSatu.com – Untuk mengembalikan satwa yang dilindungi undang-undang ke habitatnya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua bekerjasama dengan Polda Papua melepasliarkan 17 satwa yang terdiri berbagai jenis burung ke habitatnya.
Burung tersebut, yang merupakan hasil sitaan Direktorat Reskrimsus Polda Papua berupa satu ekor cenderawasih kuning kecil, satu ekor kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), satu ekor nuri kepala hitam (Lorius lory), satu ekor nuri bayan (Eclectus rotatus), satu ekor nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei), dan lima ekor perkici pelangi (Trichoglossus haematodus).
Selain itu juga satwa dari penyerahan sejumlah pihak, diantaranya Polsek/KP3 Bandar Udara Sentani, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, Pamtas RI-PNG, dan masyarakat kepada kepada Balai Besar KSDA Papua, berupa enam ekor kakatua jambul kuning (Cacatua galeata), satu ekor nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei), dua ekor nuri kepala hitam (Lorius lory), satu ekor kasturi raja (Psiltrichas fulgidus), dan satu ekor kakatua raja (Probosciger aterrimus).
Pelepasliaran satwa tersebut digelar dalam rangka Hari Bhakti Rimbawan Ke-37, di kawasan hutan Cagar Alam Cyclop, Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Sabtu (14/03/20).
Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S, Hut., M.Si. mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar di Papua.
“Kita berharap dia bisa hidup di alamnya dan berkembang biak, dan juga bisa menjaga kelestarian ekosistem yang ada,” ungkapnya kepada wartawan di sela-sela melepasliarkan hewan sitaan dan penyerahan masyarakat tersebut.
Edward Sembiring juga menyatakan bahwa sinergitas kolaboratif dalam pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar di Papua, terutama yang dilindungi undang-undang, akan tetap dltingkatkan bersama semua pihak.
Di kesempatan sama, AKBP Y. Agustiandaru, SIK, MH (Kasubdit III Dit Reskrimsus) mewakiri Direktur Reskrimsus Polda Papua mengungkapkan, satwa sitaannya ada 12 ekor dari satu orang tersangka yang telah ditahan di Polda Papua untuk proses hukum lebih lanjut.
“Pada tanggal 10 Maret 2020, Kami dari Dit Reskrimsus, Subdit Tipiter telah mengamankan 12 ekor, 2 diantaranya dalam kondisi mati,” ungkapnya.
Kepala Kampung Dosay, Yunus Yaboisembut dalam sambutannya menyampaikan terima kasihnya atas dilepasliarkannya satwa tersebut di kawasan hutan di kampungnya.
“Dulu di hutan cyclop ini sering terdengar suara burung kakak tua dan cenderawasih. Namun saat ini sudah tidak ada lagi. Mudah-mudahan dengan adanya acara ini, suara-suara merdu itu bisa terdengar lagi,” ungkapnya.[yat]