Gadis Cantik Asli Timor Leste Tunjukan Pengabdiannya di Daerah Pedalaman Papua Sebagai Guru SD

0
1253
Caption : Inilah sosok Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika mengantar pulang salah satu muridnya usai pulang sekolah dengan menggunakan sebuah perahu di waktu kesempatan.
Caption : Inilah sosok Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika mengantar pulang salah satu muridnya usai pulang sekolah dengan menggunakan sebuah perahu di waktu kesempatan.

JAYAPURA, PapuaSatu.com Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd. Itulah nama lengkap gadis cantik asal Timor Leste kini menjadi viral setelah memberikan pengabdian menjadi seorang guru di daerah terpencil Papua, tepatnya di SD Inpres Kaibusene Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

Guru berusia 23 tahun kelahiran  12 Februari 1996 di Kota Dili Negara timuor Leste ini, lulus  di Universitas Nusa Cendana 2017 dengan jurusan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kehadirannya di pedalaman Papua mampu merubah Mindset anak-anak di pedalaman untuk menggapai cita-cita mereka menjadi orang hebat.

Perubahan pola pikir anak-anak tersebut, Diana berjuang mengubahnya melalui giat belajar walau terkadang hanya dengan segala keterbatasan buku. Namun harus tetap latihan membaca dan menulis agar mereka paham tentang pendidikan agar menjadi pedoman bagi mereka menuju kehidupan pendidikan yang layak.

Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika foto bersama dengan dua Murid kelas VI SD Inpres Kaibusene Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.
Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika foto bersama dengan dua Murid kelas VI SD Inpres Kaibusene Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

Dalam sebuah tulisannya di akun Facebook, Diana adalah salah seorang Timor Leste namun begitu cinta Merah Putih, meski Ayahnya, bernama, Gregorio Macedo Martins harus kembali memilih Negara Timor Leste.

Namun Diana, putri pertama dari kedua bersaudara itu mengaku ia bersama ibu kandungnya Maria Roswita Boi Mau Luma lebih memilih Indonesia pada saat jejak pendapat.

“Saya harus berpisah  dengan  Ayah sampai sekarang. Kami hanya bertemu di pintu batas. Bagi saya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa ketika harus berhadapan dengan kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan di kota sebelumnya,” kata Diana.

“Tanah kami tanah kaya,kami berenang di atas minyak, tidur di atas emas…..” Secuil lirik dari Edo Kondologit di atas membuat saya yakin anak Papua itu bisa.  Dulunya ( Nopember 2018 ), anak-anak SDI Kaibusene sama sekali tidak bisa menyebutkan identitas negara Indonesia,” katanya lagi.

Begitu menginjakan kaki di SDI Kaibusene menyampaikan rasa kesedihannya karena banyak yang belum bisa membaca. Bhakan warna bendera Indonesia disebut Bintang Kejora. Indonesia Raya pun tak bisa dinyanyikan oleh murid kelas 6, paling  fatal lagi Pancasila tidak dihafalkan.

Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, saat foto bersama dengan murid SD Inpres Kaibusene Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.
Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, saat foto bersama dengan murid SD Inpres Kaibusene Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

“Saya menangis pertama kalinya mau di bawa kemana nasib anak anak ini?  Mau salahkan siapa? Kondisi sekolah yang terbatas dengan segala fasilitasnya. Ruangan cuma 3 sehingga harus bercampur, atau karena kurangnya tenaga pendidik? atau karena malasnya pendidik turun tinggal di daerah sejuta rawa dan ikan betik itu?. Yang pasti bukan salah anak didik saya. Hal kecil tapi sangat miris ketika di dengar,” katanya.

Kehadiran Diana pad abulan Februari 2019 lalu kini anak didik yang sudah dibina dan diajar mengalami banyak perubahan. Anak didiknya mempunyai mimpi yang begitu besar besar.

“Kadang mereka berkata: Ibu sa su cape ka begini terus saya mau naik pesawat kayak bapak-bapak dorang di jakarta sana, naik mobil mewah, sa tra pernah naik mobil Ibu guru, sa mau tidur di atas spon,  Sa mau minum air bersih,  Sa mau jadi orang hebat ibu,” kata Diana mengutip ucapan anak didiknya itu.

Berkat kehadiran Diana bersama dua orang rekannya kini anak didiknya mengalami perubahan meski harus sabar dan tabah mendidiknya. “Kami harus sabar karena ada beberapa murid di SD kelas Enam sudah berusia 17 tahun. Puji Tuhan kehadiran kami, mereka sudah bisa membaca. Memang masih ada ejaannya kurang tapi kita terus berulang-ulang sampai mereka bisa,” tutur Diana.

Dengan niat mengubah nasib mereka giat belajar walau kadang dengan segala keterbatasan buku mereka tetap harus mau latihan membaca dan  menulis. Mereka mau lakukan semuanya sebab mereka mulai paham pendidikan itu merupakan pedoman menuju kehidupan yang layak.

“Mereka tidak lagi ke hutan. Kami guru bersikeras berkata kepada orangtua, “cukup mace dan pace saja ke hutan anak dorang dengan kita belajar supaya besok besok mereka bisa beli berasa kasih pace dorang makan ka,” kata Diana.

Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika foto bersama orang tua murid bersama-anak di waktu kesempatan.
Caption : Diana Cristiana Da Costa Ati, S.pd, ketika foto bersama orang tua murid bersama-anak di waktu kesempatan.

Diana merasa bangga karena ilmu yang dituangkan kepada anak-anak didiknya kini sudah mampu mengikuti, semua lagu nasional mereka sudah bisa menyanyikan, bahkan bahasa Inggris ajaran dasar pun sudah bisa disebut satu persatu.

“Saya percaya ketika seorang guru bekerja dengan niat baik, leluhur dan nenek moyang orang Papua merestui bahkan Tuhan melihat semua ketulusan kita dam semuanya diberkati semua usaha kita, walau kadang banyak yang bertanya, “kalian bertahan?,” katanya.

Iapun menjawab kalau bukan kita siapa lagi? Saya Papua, Saya Indonesia. Anak didik saya bermimpi suatu saat nanti seiring matahari terbit di ufuk timur ini kami yang kulitnya hitam dan rambutnya keriting bisa menjadi orang No 1.

“Mimpi itu Luka, tapi luka jika diobati akan sembuh. Sebagai seorang guru kami menyiapkan perpustakan mini dgn jumlah buku 500 buah utk dibaca setiap jam 16.00 WIT di rumah kami,” katanya

Kadang, kata Diana, Anak anak didiknya bertanya dan pertanyaan itu membuatnya terharu,” Ibu guru pisang goreng ni kenapa harus orang kulit putih ee yang jual,  padahal kami pisang banyak sekali yang ditanam?.

“Saya pun menjawab,karena kamu selama ini malas, coba kamu pikir kamu jual pisang kasih orang orang kulit putih mereka buat pisang goreng kamu beli lagi..yang untung siapa?? Lebih baik mari sini ibu ajar kamu buat pisang goreng supaya kamu tahu dan menghasilkan uang utk beli buku,” ucapnya.

Selain meraih mimpinya agar murid-murid SD di daerah pedalaman Papua bisa, Diana juga meraup hati orang tua agar mendorong anak-anaknya bisa sekolah.

“Ya, setiap sore pukul 15.00 pintu rumah dibuka anak-anak mulai datang membaca, ibu guru yang satu  menjaga anak-anak, kemudian guru yang satu  duduk bercerita dengan  orang tua  smabil. Ini sering kami lakukan agar orgrua pola pikir mereka itu terbuka. Duduk diskusi sambil makan sagu dan ikan betik makan tebu rawa pucuk sagu,” ucap Diana kepada PapuaSatu.com, Kamis (27/6/2019) tadi siang.

Bagi Diana bersama dua rekannya tiada hari tanpa mengajarkan anak-anak, baik itu di sekolah maupun di rumah-rumah warga.  “Kami menggunakan metode Snow Ball. Bermain Sambil belajar,” tutupnya. [loy]