Jangan Nodai KMAN VI Dengan Aksi Demo Atau Pemalangan

55
Pdt. Alberth Yoku
Pdt. Alberth Yoku (foto: dok)

SENTANI, PapuaSatu.com – Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI pada tanggal 24-30 Oktober mendatang merupakan momentum dimana negara mengakui dan memberi ruang kepada masyarakat adat dalam menemukan jati dirinya untuk menjaga identitas kebangsaan dalam bingkai NKRI.

Selain itu, juga menjadi sebuah kehormatan bagi masyarakat adat Tabi sebagai tuan rumah.

Karena itu Dewan Adat Suku dari sembilan wilayah adat di Kabupaten Jayapura menyambut baik dan mengharapkan agar tidak dinodai oleh aksi atau gerakan pemalangan sepertihalnya pada kunjungan presiden beberapa waktu lalu.

“Kongres ini agendanya masyarakat adat, nah untuk itu kita perlu memperhatikan baik, agar pengalaman seperti pemalangan dan masyarakat menghadang bapak presiden beberapa waktu lalu itu tidak terulang lagi karena ini menyangkut jati diri kita dan kurang elok di tonton, semua hal bisa dibicarakan dan selesaikan dengan baik,” ujar Tokoh Adat Kabupaten Jayapura, Pdt. Frans Albert Yoku dalam pertemuan bersama Dewan Adat Suku dan panitia KMAN IV di Aula Lt. II Kantor Bupati Jayapura, Sabtu (15/10) kemarin.

yang mana, pada kongres ini saudara-saudara kita yang merupakan raja-raja dan tokoh adat lainnya dari seluruh nusantara dari Sabang sampai Merauke berkumpul di Tanah Tabi, khususnya di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Menurutnya, masyarakat adat perlu mencermati dengan baik momentum besar yang boleh ada di wilayah adat Tabi ini dengan menyambut dan mendukung hajatan masyarakat adat nusantara yang akan berlangsung sejak tanggal 24-30 Oktober.

Dikatakan, kesempatan ini tidak mungkin akan terulang lagi dalam waktu dekat, dimana dari ufuk Timur Indonesia Tanah Tabi akan terkenang menyuarakan kedamaian dan kebhinekaan dalam semangat persatuan bangsa.[yat]