
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Pegelaran Perdana Movie Day 2025 berlangsung sukses di Esge Park, Kotaraja, Jayapura, pada Sabtu (12/7/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Layar Tumbuh Papua, Movie Day ACFFEST 2025, hasil kolaborasi antara Indonesia Art Movement (IAM) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam rangkaian Anti Corruption Film Festival (ACFFEST).
Dengan mengusung tema “Antikorupsi Itu Keren!”, kegiatan ini menghadirkan kombinasi unik antara pemutaran film pendek bertema integritas, diskusi publik, hingga pertunjukan seni jalanan.
Dari pantauan media ini, terlihat sejak pukul 18.00 WIT, lebih dari 150 penonton dari berbagai kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga keluarga memadati area terbuka Esge Park untuk menikmati tayangan film dan berpartisipasi dalam aktivitas kreatif yang membangun kesadaran antikorupsi.
Ketua IAM, Muhamad Ilham Mustain Murda, menyampaikan bahwa Layar Tumbuh Papua adalah ruang eksperimen kreatif yang menjembatani seni, edukasi, dan advokasi sosial.
“Kami percaya nilai-nilai antikorupsi bisa disebarkan lewat bahasa yang akrab di kalangan anak muda, yakni seni, musik, dan film. Acara ini menjadi bentuk afirmasi bahwa generasi muda Papua punya suara, punya aksi, dan punya mimpi untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari korupsi,” ujarnya.
Jayapura menjadi kota pertama dari tiga titik pelaksanaan Layar Tumbuh Papua tahun ini, yang akan dilanjutkan di kediaman Indonesia Art Movement – Entrop, Jayapura Selatan, pada 19 Juli 2025. Selanjutnya di Ekowisata Dusun Sagu Ebha Hekhe – Kampung Sereh, Sentani, pada 26 Juli 2025,
Melalui pendekatan yang segar dan kontekstual, IAM dan KPK mengajak publik Papua menumbuhkan budaya antikorupsi dari akar komunitas, lewat karya dan suara mereka sendiri.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah testimoni dari Nurul Fajriah Andini, produser film yang menjadi finalis ACFFEST 2024 regional Indonesia Timur.
“Saya belajar bahwa kejujuran dan keberanian bukan hanya tema film, tapi juga sikap hidup dalam proses kreatif. ACFFEST bukan sekadar kompetisi, tapi ruang belajar,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Ia berharap agar ke depan lebih banyak anak muda Papua berani menyuarakan nilai melalui karya visual.
Sementara itu, edukator dan pegiat IAM, Master Sri Maryati, menilai kegiatan ini sebagai strategi efektif mendekatkan isu korupsi pada generasi muda Papua.
“Tidak semua pesan antikorupsi bisa disampaikan secara formal. Lewat film, seni tari, rap, dan diskusi publik, pesan-pesan itu bisa lebih membumi dan kontekstual. Ini bukan hanya soal menonton, tapi tentang memahami dan menumbuhkan keberanian untuk hidup jujur,” jelasnya.
Salah satu film yang ditayangkan berjudul “Jual Babi”, karya Theo Rumansara, yang mengangkat kisah anak-anak Papua yang menjual babi simbol kekayaan keluarga demi melanjutkan pendidikan.
“Kami ingin menyampaikan pesan antikorupsi melalui cerita-cerita lokal yang dekat dengan masyarakat, dan bisa dijangkau secara digital oleh semua kalangan,” ujar Theo.
Selain film, Layar Tumbuh Papua juga menggelar dance battle yang menjadi ajang ekspresi urban generasi muda Papua. Melalui gerakan dan lirik, para peserta menyuarakan nilai kejujuran, keberanian, serta kritik sosial dengan gaya khas anak muda Papua yang penuh energi dan makna.
“Ajang ini membuktikan bahwa semangat pemberantasan korupsi tak hanya milik institusi negara, tetapi bisa tumbuh dari layar-layar kecil dan suara-suara kreatif anak muda Papua yang peduli akan masa depan daerah dan bangsanya,” ujarnya. [miki]










