Perempuan Asli Papua Diajak Mencalonkan Diri sebagai Cakada dan Cawakada 2024

186
Tuti Achmud Weripih, S.H
Tuti Achmud Weripih, S.H

MANOKWARI, PapuaSatu.com – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Tuti Achmud Weripih, S.H , salah seorang tokoh intelektual Perempuan asli Papua mendukung peningkatan keterwakilan perempuan di ranah politik yaitu Pemilihan Calon Kepala Daerah dan Cawakada tahun 2024-2029 di tanah Papua.

Pasalnya, Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi  di dunia, sudah sepantutnya meningkatkan ruang partisipasi dan representasi politik perempuan agar terfasilitasi dengan baik.

“Keterlibatan perempuan dalam politik mampu membangun pendekatan kebijakan yang humanistic, dan melibatkan perempuan dalam politik merupakan investasi untuk mengawal masa depan bangsa,”ujar Weripih kepada media ini, Senin (17/06/2024).

Menurutnya, di tanah Papua banyak figure perempuan terlebih khusus perempuan asli Papua yang memiliki kualitas dan integeritas serta potensi yang luar biasa.

“Perempuan punya hak politik untuk bertarung pemilihan kepala daerah dalam hal ini bupati dan Wakil Bupati serta Gubernur dan Wakil Gubernur. Kenapa semua calon cenderung pria? Kenapa tidak ada kesempatan untuk kami perempuan?,”katanya.

Lanjut, dia mengatakan, kebanyak figure perempuan banyak yang terjun ke dunia aktivis maupun lembaga suadaya masyarakat (LMS) baik lokal, nasional maupun internasional. Tetapi, tidak memperhatikan hak politik mereka (perempua-red) dalam pesta demokrasi.

“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan pria dalam dunia politik, apalagi saat ini kita sedang menuju era globasisasi ini. Negara atau pemerintah sudah memberikan kesempatan dan rang bagi kami perempuan,”katanya.

Untuk itu, lanjut dia, diharapkan seluruh inteletual perempuan asli Papua yang memiliki niat baik dalam mendukung pembangunan daerah, agar bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

“Saya belum lihat intelektual perempuan asli Papua yang berani maju menjadi wakil atau calon gubernur sekalipun, begitu pun bupati maupun wakil bupati. Di Papua Barat ini hanya satu kabupaten yakni Fakfak yang wakil bupatinya perempuan,”ucap Politisi Perempuan asli Papua ini.

Padahal Weripih mengemukakan, dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 14 Feberuari 2024 lalu, banyak perempuan asli Papua yang berterung baik di kabupaten dan provinsi maupun pusat.

“Kenapa hari ini, dengan kemampuan itu mereka (perempuan-red) tidak berani mendaftarkan diri sebagai bakal calon. Soal finansial atau rekomendasi dari partai poilitik mana pun, itu persoalan kedua. Yang penting ada niat dan kemanuan untuk mewujdukan hal itu,”tuturnya.

Oleh sebab itu, dirinya mengajak, intelektual perempuan asli Papua untuk bergandengan tangam menunjukan bahwa perempuan juga bisa bertarung dalam dunia politik.

“Jangan selamanya harus pria, tapi kalau bisa kami juga perempuan. Dan calon-calon bupati pria maupun gubernur ini juga, jangan selalu berpikir bahwa yang harus menjadi wakil adalah pria, coba sekali-sekali para calon mencari perempuan untuk mendampingi,”tegas calon advokad perempuan di tanah Papua ini.

Dia menegaskan, Ini saatnya perempuan khususnya perempuan asli Papua terlibat dalam memajukan pembangunan di suatu daerah.

“Tidak ada sekat dalam dunia politik. Cukup dengan kehadiranmu (perempuan-red) mencalonkan diri sebagai waki bupati saja, masyarakat pasti akan berbondong-bondong membrikan dukungan. Kenapa, di dalam hal ini mereka (perempuan) akan berpikir bahwa ini saatnya dan mungkin perempuanlah yang bisa mengerti keluhan masyarakat,”aku Tuti Achmud Weripih, S.H.

Namun apabila di Pemilu 2024 ini tidak ada perempuan yang berani menyatakan sikap, kata dia, sebagai perempuan asli Papua akan mendorong perempuan untuk menjadi kepala daerah di tanah Papua terlebih di provinsi Papua Barat.[free]