Wakil Menparekraf Buka Main Event FDS Ke-XV, Harus Beri Manfaat Nyata, Bukan Sekadar Seremonial

SENTANI, PapuaSatu.com — Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, menegaskan bahwa penyelenggaraan festival budaya seperti Festival Danau Sentani (FDS) ke-XV tidak boleh hanya menjadi acara seremonial semata, melainkan harus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat setempat.

Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada puncak perayaan FDS ke-XV di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Kamis (3/9/2026).

“Saya sepakat bahwa festival seperti ini tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang seremonial saja. Dia harus hadir untuk memberikan manfaat, baik itu manfaat secara ekonomi maupun juga manfaat secara sosial kepada masyarakat kita,” ujar Wakil Menteri.

Menurutnya, manfaat tersebut harus dirasakan langsung oleh masyarakat maupun para pelaku seni dan penjaga budaya yang menjadi tuan rumah acara.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar festival tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi aktivitas yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Masyarakat bisa hadir di situ tidak hanya menonton, tetapi menjadi pelakunya. Mereka hadir di situ untuk menunjukkan bahwa ini adalah milik mereka, bahwa budaya yang ditampilkan dalam satu festival itu adalah benar-benar menjadi milik mereka, benar-benar mereka yang menjadi penerima manfaat karena mereka penjaganya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ni Luh Enik Ermawati menyambut baik penyelenggaraan FDS ke-XV yang kembali ditetapkan sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN).

Pihaknya melakukan kurasi terhadap ribuan acara di seluruh Indonesia, dan tahun ini terpilih 125 event yang masuk dalam daftar KEN.

“Selamat kepada Kabupaten Jayapura karena Festival Danau Sentani kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara,” ucapnya.

Salah satu indikator utama dalam penetapan sebuah acara masuk KEN adalah keterlibatan UMKM dan pelaku seni budaya lokal.

Ditegaskan, seluruh pelaku yang terlibat dalam festival harus berasal dari daerah setempat agar ekonomi yang dihasilkan dapat berputar di wilayah tersebut dan langsung dirasakan masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa dalam festival yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara itu benar-benar melibatkan pelaku seni budaya di daerah tersebut, tidak boleh dari luar. Karena kita ingin ekonominya berputar di tempat itu,” ungkapnya.

Wakil Menteri juga menyampaikan data dampak ekonomi dari KEN tahun sebelumnya. Pada 2025, terdapat 110 event yang masuk kurasi KEN dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp17 triliun, di mana sekitar Rp5 hingga Rp6 triliun berupa dampak ekonomi langsung yang diterima masyarakat.

Ia berharap, dengan kerja sama antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, manfaat yang dihasilkan dari Festival Danau Sentani dapat dirasakan secara lebih luas dan masif oleh masyarakat Kabupaten Jayapura dan Papua pada umumnya.

“Kita bisa menghadirkan manfaat itu kepada masyarakat secara lebih masif lagi,” pungkasnya.[yat]