
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Penanganan gizi berperan penting dalam penanganan bencana dan krisis Kesehatan untuk mempertahankan status gizi masyarakat dan mencegah resiko kesakitan dan kematian akibat kurang gizi, khususnya pada kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, bayi balita, remaja serta lansia.
Pada anak dengan gizi buruk misalnya resiko kematian meningkat secara signifikan pada situasi bencana akibat terbatasnya layanan dan terbatasnya akses terhadap pangan.
Masyarakat umum juga menjadi rentan tehadap masalah gizi apabila dampak bencana terjadi berkepanjangan. Pencegahan dan penanganan permasalahan gizi yang tidak tepat pada situasi bencana juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi terganggu serta dampak-dampak sosio ekonomi yang menyertainya.
Pada tanggal 1 hingga 2 Juli 2021, Pemerintah Provinsi Papua melalui BPBD Provinsi dan Pusat Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyelenggarakan kegiatan lokakarya respons gizi pada masa tanggap darurat.
Kegiatan yang bertempat di Hotel Horizon Abepura ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman dasar mengenai respon gizi pada masa tanggap darurat serta menyepakati skenario dan asumsi dampak bencana terkait layanan gizi guna penyusunan rencana kontijensi sub klaste gizi serta menyepakati terbentuknya mekanisme koordinasi di tingkat sub klaster gizi.
Kegiatan ini dihadiri oleh BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, BMKG Provinsi, Perguruan tinggi dan organisasi profesi dan mitra pembangunan.
Acaara ini dimulai dengan penyajian materi dasar terkait respons gizi dalam masa tanggap darurat yang disajikan oleh beberapa pemateri seperti dari Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes RI terkait Pengantar respons gizi dalam penanggulangan bencana. Kemudian dilanjutkan oleh, Rencana Kontinjensi Bencana tingkat Provinsi dan Mekanisme Koordinasi Penanganan Darurat bencana yang disajikan oleh BPBD Provinsi Papua. Serta Penanganan Krisis Kesehatan oleh Pusat Krisis Kesehatan Dinkes Provinsi Papua.
Dan yang terakhir oleh, Yos Malole sebagai Konsultan UNICEF yang menyajikan materi terkait penentuan skenario bencana dan rencana kontijensi gizi. Di hari kedua, dilanjutkan oleh kegiatan diskusi kelompok terarah. “Kami melakukan sosialisasi rencana penulisan dokumen kontijensi gizi dalam bencana yang diikuti oleh semua peserta,” katanya.
Selain itu, peserta kegiatan juga sepakat untuk melakukan pembentukan kelompok kerja. “Kami bersepakat untuk membentuk kelompok kerja sub-klaster gizi pada masa bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya.
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini pemerintah daerah dengan dukungan oleh mitra dan UNICEF mampu untuk melakukan kesiapsiagaan penanganan gizi pada situasi bencana dan krisis Kesehatan karena hal ini merupakan salah satu kunci di dalam upaya pengurangan resiko bencana dan krisis kesehatan. [ayu]










