
SENTANI, PapuaSatu.com – Dalam kesempatan dialog dengan para mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Abepura, Rabu (1/9/21), Pdt Albert Yoku memaparkan kaitan antara iman Kristen, Covid-19 dan Pelaksanaan PON.
Dalam dialog yang berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut, Pdt. Abert Yoku,S.Th diundang oleh GMKI dan komisariat-komisariat GMKI.
Pdt. Albert Yoku yang juga Wakil Ketua II Sub PB PON Kabupaten Jayapura memberikan pencerahan kepada para mahasiswa tersebut tentang ketaatan mereka dalam menerapkan Prokes dan vaksinasi Covid-19 yang menjadi salah satu syarat bagi penyelenggara PON XX Papua 2021.
“Kita membicarakan bagaimana pandangan-pandangan yang berdasarkan kitab suci yang menjadi pegangan-pegangan dan juga menjadi tantangan pemuda-pemudi kristen di dalam aktifitas mereka dan ketaatan mereka di dalam menerapkan Prokes dan vaksinasi,” ungkapnya saat ditemui wartawan di Sekretariat Sub PB PON Kabupaten Jayapura, Stadion Barnabas Youwe, Rabu (1/9/21)
Tokoh Agama Kristen yang juga duduk sebagai Ketua FKUB Kabupaten Jayapura tersebut menyiratkan bahwa sebagai orang beriman wajib untuk turut dalam upaya penanggulangan wabah Covid-19 yang melanda seluruh negara-negara di dunia sejak Tahun 2019 tersebut.
“Saya selalu mengarahkan kepada mereka bahwa iman itu selalu mengarahkan orang pada jalan selamat. Tidak ada iman yang mengarahkan kepada jalan sesat dan celaka,” ungkapnya.
Sehingga, vaksinasinasi yang dijadikan sebagai prasyarat bagi penyeleggara PON, karena di iven olahraga nasional tersebut berpotensi mengumpulkan banyak orang yang datang dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada undangan dari negara—negara kawasan Pasifik.
“Covid-19 ini kan sesuatu yang nyata, dan wabah ini mendunia, dan juga wabah ini telah membuat banyak orang terkapar dan sudah membuat banyak orang meninggal,” ujarnya.
Dikatakan, hal itu secara kongkrit dapat kita lihat di Kota dan Kabupaten Jayapura, yang dalam minggu-minggu terakhir ini para pemimpin agama harus mengubur banyak orang akibat terpapar virus yang pertama menyebar Wuhan, China tersebut.
“Bahkan kita kita juga mencari peti mati itu tidak ada di tempat jualan, sehingga harus ditunggu dikerjakan dulu baru bisa diambil,” ungkapnya lagi.
Dan khusus untuk jenazah yang terpapar Covid-19, ada protokol sebagai pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19, yang mewajibkan menggunakan peti baik kristen maupun muslim.
“Itu membuktikan bahwa Covid-19 itu benar-benar ada. Jadi anda jangan berpikir bahwa iman mengarahkan anda ke surga sampai anda lupa dengan kenyataan di bumi,” tegasnya.
Hal itu sebagai arahnnya kepada para mahasiswa GMKI, supaya sebagai mahasiswa dapat lebih rasional dalam pandangan-pandangannya.
Dan dalam kaitannya dengan PON yang melibatkan banyak orang berkumpul, Pdt. Albet Yoku meminta para mahasiswa GMKI untuk harus ikut menyelamatkan banyak orang itu.
“Sehingga Covid-19 dan PON menjadi satu-kesatuan dalam kaitan dengan jangan sampai PON menjadi sebuah tempat baru untuk penyebaran virus ini kemana-mana,” tegasnya lagi.
Kepada para mahasiswa di GMKI, dimintanya untuk harus bisa menyadari dan bisa ikut mengajarkan tentang ketaatan.
“Anda sebagai mahasiswa Kristen ya harus taat. Jangan membantah pemerintah, karena kalau di iman kristen itu pemerintah adalah hamba atau wakil Allah,” terangnya lebih lanjut.
“Jangan karena iman kami mau tolak, padahal iman tidak pernah menolak hal-hal baik yang perlu dipakai,” sambungnya.
Atas pencerahan tersebut, kata Pdt. Albert Yoku, mahasiswa sangat mendukung, karena banyak mereka yang mendaftar di relawan.
“Mereka juga senang ada pencerahan, dan mereka selama ini menunggu bagaimana ada pertemuan-pertemuan dan diskusi sebagai pencerahan yang mencerdaskan dan sosialisasi tentang Covid-19 sekaligus tentang PON,” jelasnya.[yat]










