
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Pemerintah Daerah kabupaten Mamberamo Raya dan Pemerintah Provinsi Papua sudah harus membuka mata untuk pendidikan di daerah pembangunannya.
Pasalnya, sejak Otsus ada di Papua tidak pernah dinikmati dan dirasakan oleh masyarakat Kampung Foau, Distrik Mamberamo Hulu, distrik Dabra khususnya di bidang Pendidikan.
Hal terbukti, dana 80 persen yang dikucurkan Pemerintah Provinsi Papua hingga tidak dirasakan sehingga warga Kampung Foau, Distrik Mamberamo Hulu, distrik Dabra terpaksa mengontrak guru sebesar Rp 50 juta hingga 100 juta per orang selama 3 tahun.
Pdt Yulianus Wau Abaruda selaku perwakilan masyarakat Kampung Foau, Distrik Mamberamo Hulu menganggap Otsus yang dikucurkan Pemprov Papua dinilai gagal untuk menjawab pembangunan di daerah Mamberamo Raya, lebih khusus pembangunan di bidang pendidikan.
Masyarakat selalu berharap kepada kepimpinan bupati dan wakil bupati yang baru bisa menikmati hasil pembangunan terutama bidang pendidikan. Namun justru tertinggal. “Dana Otsus yang dikucurkan itu, tidak berguna bagi daerah Mamberamo Raya, pembangunan pendidikan, kesehatan maupun infrastruktur tidak dirasakan masyarakat sampai saat ini,” ungkap Yulianus.
Padahal, menurut Yulianus, Bupati Mamberamo Raya telah berjanji akan melakukan guru kontrak untuk memenuhi kebutuhan guru di semua sekolah dan membangun sekolah yang ada di daerah itu. “Kami percaya karena Bupati dan Wakil Bupati merupakan anak asli daerah, tapi kenyataan tidak terealisasi atas janji manis yang disampaikan sebelum maju sebagai Bupati,” tukasnya, Kamis 1 November 2018.
Untuk itu, ia mempertanyakan dana Otsus 80 persen yang dikucurkan Pemprov Papua ke kabupaten/kota, termasuk ke Mamberamo Raya. “Dana Otsus 80 persen itu kemana? Siapa yang pakai? Untuk apa penggunaannya? Sedangkan masyarakat sedang menderita dan mengeluh,“ katanya.
Yulianus menerangkan bahwa Kampung Foau, Distrik Mamberamo Hulu, sebelumnya telah mendapatkan bantuan gedung sekolah dengan 2 ruang kelas SD sejak kepemimpinan Bupati Edward Fonantaba tahun 2015 – 2016 silam.
Saat itu, ia berharap ketika Mamberamo Raya dimekarkan menjadi kabupaten, gedung sekolah itu akan dibangun lebih baik lagi, sehingga genap menjadi 6 kelas, ada rumah guru dan guru yang ditugaskan di sekolah. Namun, sampai saat ini tidak terealisasi.
Akhirnya, masyarakat Kampung Foau terpaksa mencari guru kontrak sendiri untuk mengajar di sekolah itu. “Kami datangkan guru kontrak dari UGM Jogjakarta, Andika Pasoroan Tampubolon dan datangkan dari Pekan Baru, Riau, Nia Tobing. Itu kami bayar secara swadaya dari masyarakat sendiri, tanpa bantuan biaya dari pemerintah,“ katanya.
Bahkan, masyarakat bersama gereja mendatangkan guru kontrak itu, untuk mengajar di sekolah yang ada di kampung itu, selama 3 tahun, yakni 2017 – 2020.
“Namun, setelah itu kami tidak mampu lagi membayar guru kontrak ini. Setiap tahun 1 orang guru kontrak yang kami datangkan itu dibayar Rp 50 juta. Jadi, dua orang guru Rp 100 juta dikali tiga tahun membutuhkan anggaran Rp 300 juta,“ katanya.
Kedua guru kontrak yang didatangkan swadaya masyarakat dan gereja itu, mengajar kelas 1 – 6 SD di daerah itu, yang baru memiliki dua ruang kelas tersebut, terpaksa ada yang belajar mengajar di balai kampung.
“Muridnya, ada lebih dari hampir 200 orang. Hanya ada dua guru kontrak yang kami datangkan dan 1 guru PNS saja. Dulu ada guru, tapi dia datang hanya ketika mau ujian saja. Tapi, setelah didatangkan guru kontrak, kami tidak mau lagi dan dipindahkan ke daerah lain,“ tandasnya.
Kondisi pendidikan yang memprehatinkan itu, kata Yulianus Abaruda, hampir terjadi di daerah lain di Mamberamo Raya, misalnya gedung sekolah sudah tidak layak lagi, guru tidak ada, rumah guru juga tidak ada. Belum ada guru bantuan dari Pemkab Mamberamo Raya. “Jadi, guru datang mau tinggal dimana? Jadi, semua serba susah di Mamberamo Raya,“ ujarnya.
Selain itu, imbuhnya, dalam SK Bupati Mamberamo Raya Nomor 44 Tahun 2016, tentang Pengangkatan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah, tidak lebih dari 10 orang anak-anak Mamberamo Raya. Bahkan, tidak ada yang sarjana pendidikan. [loy]










