BPS : Inflasi Naik dan Turun Sama-Sama Dibutuhkan Untuk Kestabilan Perekonomian

Kepala Bidang Statistik Distribusi, Bambang Wahyu Ponco Aji

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kestabilan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dicerminkan dalam bentuk inflasi, dibutuhkan agar roda perwkonomian dapat berjalan.

Namun, bila dilihat dari data inflasi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Dtatistik, ada kalanya inflasi naik, dan ada kalanya turun signifikan, hingga mencapai deflasi.

Seperti yang dialami Kota Jayapura, yang pada Bulan Juni 2019 mengalami deflasi 0,08 persen.

Demikian juga inflasi pedesaan Papua yang tercatat 0,36 persen, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan 0,10 persen, dengan indeks NTP 91,82.

Naik turunnya inflasi, kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Papua, Bambang Wahyu Ponco Aji, sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan perekonomian daerah.

Karena itu, meski deflasi terjadi di Kota Jayapura di Bulan Juni 2019. Demikian juga untuk inflasi pedesaan juga rendah (0,10 persen) dan terjadi penurunan NTP, namun belum bisa dikatakan bahwa perekonomian di Papua lesu.

“Inflasi ataupun deflasi itu merupakan pergerakan perekonomian. Jadi dia lesu itu kalau memang konsisten dan waktu agak lama,” jelasnya kepada wartawan saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Senin (1/7/2019).

Tapi kalau ada kalanya inflasi, dan ada kalanya deflasi, hal itu merupakan pergerakan ekonomi yang normal.

“Kalau turun terus itu bahaya, kalau naik terus juga bahaya. Dan kalau datar terus, ini ada apa,” jelasnya.

Deflasi Bulan Juni 2019 sebesar 0,08 persen di Kota Jayapura, kata Bambang Wahyu Ponco Aji, berbeda dengan bulan Mei 2019 yang mengalami inflasi sebesar 1,13 persen.

“Diantara faktor pemicu terjadinya deflasi adalah penurunan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu: tarif angkutan udara sebesar 0,509 persen, bawang putih sebesar 0,069 persen, bawang merah sebesar 0,052 persen, daging sapi sebesar 0,026 persen, air kemasan sebesar 0,009 persen, obat dengan resep sebesar 0,007 persen, kentang sebesar 0,007 persen, daging ayam ras sebesar 0,003 persen, ikan teri sebesar 0,003 persen, buncis sebesar 0,002 persen, dan beberapa komoditas dominan lainya,” urainya.

Secara umum deflasi tersebut masih didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (tarif angkutan udara) yang memberikan andil 0,45 persen terhadap total deflasi di Kota Jayapura.

Sementara itu di Merauke selama Juni 2019 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen. Kondisi tersebut bertolak belakang dibandingkan kondisi bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,49 persen.

Diantara faktor pemicu terjadinya inflasi adalah kenaikan harga dengan besaran andil masing-masing yaitu: bawang putih sebesar 0,260 persen, ikan mujair sebesar 0,142 persen, bawang merah sebesar 0,092 persen, daging ayam kampung sebesar 0,085 persen, telur ayam ras sebesar 0,074 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,047 persen, wortel sebesar 0,047 persen, tempe sebesar 0,046 persen, daging sapi sebesar 0,034 persen, semen sebesar 0,024 persen, dan beberapa komoditas dominan lainya.

Secara umum inflasi tersebut didominasi oleh pengaruh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan dengan andil mencapai 0,10 persen terhadap total inflasi di Merauke. Lebih lanjut, di Kota Jayapura perkembangan inflasi tahun berjalan Juni 2019 mencapai 1,27 persen.

Pencapaian ini lebih rendah dan terkendali dibandingkan Juni 2018 yang sebesar 3,88 persen. Selain itu inflasi year on year (yoy) Juni 2019 sebesar 4,03 persen dan relatif lebih rendah dibandingkan yoy Juni 2018.

Dibandingkan dengan daerah-daerah lain se Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua), yang mana inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 3,60 persen dan inflasi terendah terjadi di
Kota Makassar sebesar 0,05 persen. Adapun deflasi satu-satunya terjadi di Kota Jayapura sebesar 0,08 persen.

Dan untuk secara nasional, Kota Jayapura menempati urutan ke-77 di tingkat nasional dan ke-18 di tingkat Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua),
Sedangkan Merauke menempati urutan ke-60 di tingkat nasional dan ke-13 di tingkat Sulampua.[yat]