BPS : Ketimpangan Kaya Miskin di Papua Turun Tipis

Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari didampingi Kepala Bidang Statistik Sosial, Bagas Susilo dan Kepala Bidang Statistik Ketahanan Sosial, Taufiq Fajar Dewanto, saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Senin (15/7/2019).
Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari didampingi Kepala Bidang Statistik Sosial, Bagas Susilo dan Kepala Bidang Statistik Ketahanan Sosial, Taufiq Fajar Dewanto, saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Senin (15/7/2019).

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh gini ratio sebesar 0,394 pada Maret 2019.

Gini ratio ini juga merupakan tingkat ketimpangan antara penduduk miskin dan kaya.

Hal itu diungkapkan Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari didampingi Kepala Bidang Statistik Sosial, Bagas Susilo dan Kepala Bidang Statistik Ketahanan Sosial, Taufiq Fajar Dewanto, kepada wartawan di kantornya, Senin (15/7/2019).

“Angka ini menurun sebesar 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,398,” ungkapnya.

Hal itu naik sebesar 0,025 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang tercatat sebesar 0,369 .

Untuk Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,297, naik dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,294 dan turun jika dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,312.
Sementara itu, Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,409, naik jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,384 dan turun jika dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,416.

Pada Maret 2019, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 15,35 persen.

“Artinya pengeluaran penduduk berada pada kategori tingkat ketimpangan sedang,” jelasnya.

Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 21,63 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan rendah.

Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 15,37 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan sedang.[yat]