Cangkupan Sub Pin Polio di Nduga 04,46 Persen, Tokoh Agama Akui Ada 14 Lokasi Rawan

0
52
Pendeta Yosep Rumere saat menandai daerah-daerah yang rawan di Kabupaten Nduga, Senin (19/8/2019)
Pendeta Yosep Rumere saat menandai daerah-daerah yang rawan di Kabupaten Nduga, Senin (19/8/2019)

JAYAPURA, PapuaSatu.com  – Sub pin polio terus digenjot hingga mencapai putaran kedua. Akan tetapi, meskipun telah memasuki putaran kedua, cangkupan sub pin polio pada Kabupaten Nduga baru tercapai 4,46 persen bahkan ada 14 lokasi yang rawan dan masuk dalam zona merah.

Bahkan, salah satu tokoh agama yang menjadi pimpinan jemaat di GKI Kategorial Bethel Kenyam Nduga, Pendeta Yosep Rumere menjelaskan ada lokasi-lokasi tersebut adalah zona konflik.

“Itu zona konflik, sehinggan masyarakat sulit kita temui, kebanyakan masyarakat tidak ditempat tinggal mereka tetapi di pengungsian. Sedangkan tempat pengungsian tersebar pada 4 kabupaten maka itu yang menjadi penghambat sehingga tenaga medis agak sulit bertemu,” jelasnya kepada wartawan, di Horizon Kotaraja-Jayapura, Senin (19/8/2019).

Lokasi-lokasi tersebut yakni Mapenduma, Kroptak, Paro, Yigi, Ekilapok, Dal, Biripem, Mugi, Mam, Klabypma, Baklema, Mbuwa, Iniye dan Yal. “Namun, situasi di Nduga di ibu kota aman karena ada aparat tapi ditempat konflik, masyarakat tidak terlalu banyak karena merasa tidak aman,” terangnya.

Hambatan lainnya juga diakui Yosep adalah karena keterbatasan media informasi dan tenaga medis yang terjun langsung ke masyarakat serta tingkat kecurigaan yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

“Sulit karena ada kecurigaan dari masyarakat. Ada oknum-oknum yang curiga jangan sampai tenaga medis membawa sesuatu yang tidak baik untuk dikonsumsi masyarakat disana. Mereka takut, sehingga interaksi dengan orang lain agak sulit,” ungkapnya.

Meski begitu, sampai saat ini, tokoh-tokoh agama adalah orang-orang yang paling dipercayai oleh masyarakat di Nduga. “Ya, bahkan ditempat konflik pun yang paling dekat dengan masyarakat ya hanya tokoh agama,” paparnya.

Senada dengan itu, Ketua Gereja-Gereja Indonesia di Papua, Pendeta Herman Saud mengakui keterlibatan tokoh gereja sangat efektif. “Saya rasa keterlibatan tokoh agama dianggap sangat baik karena agama kan pasti punya umat, setiap hari pasti bertemu dengan umat yang dilayani, jadi lewat pimpinan agama itu lebih mudah untuk mengerti dan memahami,” akunya.

Maka ia mewakili tokoh-tokoh agama sangat mendukung akan kerjasama antara Unicef, Kementerian Kesehatan dan tokoh agama agar tetesan polio bisa sampai ke semua masyarakat yang menjadi target. “Karena di Papua ini gereja-gereja di pedalaman umumnya masih sulit menerima orang baru, namun lewat tokoh agama pasti bisa mengalami peningkatan,” tutupnya. [ayu]