‘Miris’ Miras dan Seks Salah Satu Pintu Masuk HIV/AIDS di Papua

1832
Caption : dr. Anthon Motte
Caption : dr. Anthon Motte

JAYAPURA, PapuaSatu.com –  Penanganan HIV/AIDS di Papua yang terus meningkat kini menjadi tugas berat dari kepengurusan baru oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua dibawah kepemimpinan Yan Matuan.

Pasalnya, secara tidak sadar penyakit HIV/AIDS perlahan-lahan membunuh generasi penerus Orang Asli Papua apabila mata rantai penyakit HIV/AIDS diputus.

Koordinator Bidang Program KPA Provinsi Papua, dr Anthon Mote menyebutkan hasil riset yang pernah dilakukan oleh aktivis penilitian HIV/AIDS di Papua, Ida Bagus Sutakertya pada tahun 2017 lalu menyatakan bahwa salah satu pintu masuk HIV/AIDS adalah minuman keras (miras).

“kami memandang bahwa Miras dan hubungan seks bebas ada kertakitan dan itu adalah salah satu pintu masuk penyakit HIV/AIDS. Semua bermula dari miras, lalu ketika seseorang sudah mabuk maka berakhirlah dengan seks bebas,” kata Mote kepada wartawan di Abepura-Jayapura-Papua, Rabu (30/01/2019).

Ia memaparkan, seseorang dipengaruhi oleh Alkohol maka sudah tidak bisa berpikir jernih lagi dan peluang melakukan hubungan seks tidak aman atau “unsafe sex” lebih besar.

“Orang yang sudah dibawah pengaruh alkohol tidak bisa berpikir lagi akan memakai alat kontrasepsi atau tidak, makanya itu yang menjadi penyebab terbesar seseorang terinfeksi HIV/AIDS,” papar Mote.

Hasil penelitian sudah jelas bahwa dari 0,1 mililiter peningkatan kadar alkohol dalam darah akan meningkatkan sebanyak 5 persen partisipan bersedia melakukan unsafe sex.

Bahkan dari hasil riset Bagus, telah ditemukan juga anak belasan tahun yang sudah mengenal seks. “Anak usia 15 tahun ada yang sudah pernah melakukan hubungan seks. Ini benar-benar miris sekali melihat generasi bangsa seperti ini,” cetus dia.

Maka dari itu KPA akan melanjutkan program yang telah dijalankan dari tahun lalu namun akan sedikit mengubah paradigma dan menekan jumlah odha baru.

“Program lama tetap dijalankan namun kami akan menekan jumlah odha dengan cara menjalankan riset dan didampingi oleh dinas terkait serta tokoh agama,”pungkas Mote. [ayu/loy]