
MERAUKE, PapuaSatu.com – Meski salaah satu atraksi spektakuler, yakni terjun paying oleh 73 penerjun ditiadakan, undangan dan masyarakat yang akan menyaksikan jalannya peringatan HUT TNI Ke-73 di Bandara Mopah Merauke tetap memberi tampilan spektakuler.
Hal itu sebagaimana yang ditampilkan pada gladi bersih sebagai persiapan akhir puncak peringatan HUT TNI Ke-73, Rabu (3/10/2018), setelah pelaksanaan seremoni upacara.
Yakni pertunjukan sosio drama yang mengisahkan heroisme perjuangan LB Moerdani dan pasukan TNI saat berjuang membebaskan Kota Merauke dari penjajahan belanda yang membakar semangat nasionalisme.
Setelah sejumlah prajurit TNI tewas ditembak pasukan Belanda dan sebagian ditawan, pasukan LB Moerdani mendapat bantuan dari masyarakat pribumi. Pasukan LB Moerdani pun berhasil memukul mundur pasukan Belanda.
Dan atas kesepakatan yang dicapai di New York, Amerika Setikat yang dikenal dengan New York Agreement, kolonial Belanda pun resmi meninggalkan tanah Irian Barat (Papua), dan bendera merah putih resmi berkibar di bumi Anim Ha.

Penampilan berikutnya juga tidak kalah spektakuler setelah penampilan tarian kolosal, yakni pemecahan tumpukan beton hebel setinggi 251 buah yang disusun di menara setinggi 26 meter oleh Serka Inf. H. Heri dari Batalyon 751/Rider, sehingga Musium Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai pemecahan rekor dan langsung diberi piagam penghargaan dalam acara syukuran dan dilanjutkan dengan tampilan panggung prajurit di lapangan upacara HUT TNI Ke-73.
Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi sat ditemui disela-sela memantau jalannya gladi bersih, Rabu (3/10/2018) mengungkapkan bahwa pihaknya tetap melaksanakan peringatan HUT TNI secara meriah, meski dalam suasana duka mendalam atas bencana alam di Kabupaten Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.
“Kita tetap melaksanakan peringatan secara meriah, maksima,” ungkapnya.
Dikatakan, bahwa setelah beberapa hari lalu Presiden Jokowi menyatakan akan menghadiri HUT TNI, dan kemudian dibatalkan karena ada bencana gempa bumi di Palu dan Donggala, dan sebagai penggantinya adalah Panglima TNI Agus Tjahjanto.
Namun demikian, karena Panglima TNI ingin lebih berkonsentrasi pada upaya penanganan kemanusiaan di Palu.
“Terakhir kemarin Panglima TNI memutuskan untuk konsentrasi pada penanganan kemanusiaan di Palu, sehingga beliau perintahkan Kepala Staf Angkatan Darat untuk mengambil alih mewakili beliau,” ungkapnya.
Hal itu, kata Kolonel Aidi, karena dalam ketentuan militer, bahwa dimana tempat yang paling beresiko, panglima harus berada di tempat tersebut.
Dikatakan, saat ini sudah lebih dari 3000 personil TNI dikerahkan di Palu dan Donggala.
Untuk persiapan peringatan HUT TNI Ke-73, telah mencapai 95 persen. “Untuk kekurangannya tingal dipoles-poles saja,” ungkap Kolonel Aidi.[yat]










