Pemuda Diminta Ikuti Jejak Perjuangan Terdahulu

244

Caption Foto: Asisten I Setda Kabupaten Jayapura, Abdurahman Basri bertidak sebagai inspektur upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 Tahun, di Lapangan Upacara, Kantor Bupati Gunung Merah Sentani, Sabtu (28/10/2017). (YanPiet/PapuaSatu.com)

SENTANI, PapuaSatu.com – Bupati Jayapura melalui Asisten I Setda Kabupaten Jayapura, Abdurahman Basri ketika membacakan Sambutan Menteri Pemuda Dan Olahraga, mengungkapkan bahwa kebanyakan pemuda masa kini tidak mempunyai pemikiran untuk bangsa dan negara tetapi lebih memikirkan akan ego serta kepentingan pribadi.

Yang mana, pemuda dahulu perjuangannya dihalangi oleh banyak rintangan. Baik rintangan alat transportasi, komunikasi dan persoalan lainnya.

“Tetapi semua itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyatukan kesatuan dan persatuan bangsa ini. Itulah contoh yang saya minta dapat diikuti oleh pemuda-pemudi kita masa kini, ujarnya.

Ia mengatakan, untuk menjangkau ujung timur dan ujung barat Indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja. Begitu pun dalam hal berkomunikasi dengan sesama pemuda di pelosok negeri ini cukup menggunakan alat komunikasi, tanpa menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan lamanya.

Namun anehnya, justru dengan berbagai macam kemudahan yang kita miliki hari ini, kita lebih sering berselisih paham, mudah terpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian,katanya.

Dalam sebuah kesempatan, Lanjut Basri, Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno pernah menyampaikan Jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekedar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir.

Dikatakan, api sumpah pemuda harus kita ambil dan terus nyalakan. Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Ditambahkannya, semua pemuda juga harus berani melawan ego kesukuan, keagamaan dan kedaerahan. Karena, ego ini yang kadang kala mengemuka dan terus mengerus persaudaraan sesama anak bangsa.(piet/aj)