Tiga Paslon Puncak Jaya Bersama Pendukung Akhirnya Bersatu

Bupati Puncak Jaya bersama pejabat Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih, serta seluruh muspida Puncak Jaya dan ribuan asyarakat Puncak Jaya bergandengan tangan usai ibadah ucapan syukur di lapangan Monumen roh kudus, Rabu (27/9/2017). Foto : Nius/PapuaSatu.com

MULIA, PapuaSatu.com – Setelah sekian lama masyarakat pecah akibat konflik pilkada di kabupaten Puncak Jaya, kini sudah membaur usai pelaksanaan ibadah pengucapan syukur perdamaian umum yang berlangsung di lapangan Monumen penampakan Roh Kudus, Mulia kabupaten Puncak Jaya, Rabu (27/9/2017).

Bahkan dalam acara ibadah perdamaian pengucapan syukur ini ditandai dengan pertukaran daging Wam (Babi) dan bergandengan tangan oleh tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati Puncak Jaya yakni, paslon nomor urut 1 Yustus Wonda-Kirenius Telenggen, paslon nomor urut 2 Drs. Henok Ibo-Rinus Telenggen dan paslon nomor urut 3 Yuni Wonda-Deinas Geley.

Hadir dalam acara perdamaian pengucapan syukur ini yakni, Pangdam XVII/Cenderawasih yang diwakili Aster Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Kavleri Eduard Sitorus bersama jajarannya,  Kapolda Papua yang diwakili Karo Ops Polda Papua, Kombes Pol Khares Simanjutak dan jajarannya,  Bupati Puncak Jaya, Drs. Henok Ibo, Ketua DPRD Nesco Wonda, Kapolres Puncak Jaya AKBP Indra Napitupulu, Dandim 1714/PJ, Letkol Infantri Hindratno Devidanto, Wakil Presiden GIDI, Usman Kobak serta dihadiri ribuan masing-masing pendukung paslon.

Dihadapan ribuan masyarakat, Bupati Puncak Jaya, Drs. Henock Ibo dalam sambutannya mengatakan, ibadah pengucapan syukur perdamaian umum di kabupaten Puncak Jaya menandakan bahwa proses konflik yang terjadi telah berakhir.

Tiga pasangan calon saat memotong babi lalu ditukarkan kepada masing-masing calon sebagai tanda perdamaian telah dilaksanakan. Foto : Nius/PapuaSatu.com

 “Saya atas nama Pemerintah Daerah menyampaikan terimakasih kepada seluruh masyarakat Puncak Jaya yang sudah hadir menyaksikan langsung dalam ibadah pengucapan syukur perdamaian umum bagi tanah ini,” katanya.

Ia menegaskan, proses ibadah perdamaian pengucapan syukur bukan hanya dilakukan oleh tiga pasangan calon dan massa pendukung, akan tetapi pengucapan syukur perdamaian dilakukan Tuhan, Pemerintah dan Masyarakat Puncak Jaya.

“Perdamaian Paslon sudah dilakukan pada acara belah Kayu Doli yang sudah berlangsung dua minggu lalu.  Acara hari ini adalah acara Tuhan, Pemerintah dan masyarakat kabupaten Puncak Jaya,” tukas Bupati Henock.

Bupati Henock  menyatakan, Tuhan punya kepentingan dalam acara perdamaian di kabupaten Puncak Jaya dan Tuhan menginginkan agar daerah Puncak Jaya aman dan sejahtera sehingga bisa tercipta pembangunan,  masyarakat bisa melakukan aktifitas dan anak-anak bisa sekolah.

Ribuan masyarakat dari masing-masing pasangan calon saat menghadiri acara ibadah permdaian pengucapan syukur secara umum di lapangan Monumen penampakan Roh Kudus, kabupaten Puncak Jaya, Rabu (27/9/2017). Foto : Nius/PapuaSatu.com

Hari ini Tuhan melakukan segala sesuatu bagi masyarakat Puncak Jaya, memberikan kehidupan yang baru di kabupaten ini sehingga kita bisa layak hidup sama sepertia sedia kala,” tutur dia.
Bupati menjelaskan, tujuan perdamaian  yang dilakukan untuk membagikan baik itu makanan, Wam (Babi) yang telah disiapkan diambil lalu ditukarkan untuk makan secara bersama-sama, sehingga bagi siapa yang tidak melakukan itu maka hukum Allah hari ini  diturunkan ditempat ini.

“Wartawan tanya ada lepas busur k dalam acara perdamaian ini?. Saya katakan itu adat lama, besok masyarakat akan diperdamaikan di lapangan ini, makanya kebiasaan yang berlaku. Perang selama ini dewa-dewa yang disembah kamu pake semua. Saya katakan dihadapan Allah harus mengaku bahwa kami salah,” katanya.

Bupati Henock kembali menegaskan bahwa perdamaian hari ini kekal dan abadi sehingga kedepan dapat menjadi pelajaran apa yang dilakukan selama ini, karena diakhir dari konflik maka nyawa dan harta benda kehilangan.

Pada kesempatan itu, Bupati Henock selaku pembina politik di kabupaten Puncak Jaya menyatakan, bahwa berdasarkan putusan MK pada tanggal 7 Agutsus 2017 dan Pleno KPU pada tanggal 10 Agustus 2017 telah menetapkan pasangan Yuni Wonda, S.Sos, S,IP.MM dan Deinas Geley sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2017-2022.

Wakil Presiden Gidi saat bersalaman dengan tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati . Foto : Nius/PapuasSatu.com

“Putusan MK ini adalah fina. Karena itu  momentum perdamaian umum hari ini saya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya paslon 1 dan 2 beserta tim sukses dna para pendukung agar menghormati dan dengan lapang dada menerima putusan MK ini,” tekannya.

Dimana lanjut dia, perbedaan pendapat dan pandangan selama proses pemilukada berlangsung harus dikubur dalam-dalam. “Saya mengajak kepada kita semua untuk kembali bersatu padu dan bergandengan tangan menyatukan langkah sehati serta sepikir bersama  dengan pemimpin yang baru untuk membanngun daerah Puncak Jaya selama lima tahun kedepan,” harapnya.

Sementara dalam proses pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih, Bupati Henock, telah meminta kepada Gubernur Papua dan kepada Pemerintah pusat kalau pelantikan bupati dan wakil bupati terpilihd ilakukan di  Mulia, kabupaten Puncak Jaya.

“Atas permintaan kami inilah, Gubernur dan  Jakarta telah menyetujui untuk pelantikan dilakukan di Mulia, kabupaten Puncak Jaya supaya masyarakat tau proses pelantikan itu,” tukasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada TNI dan Polri untuk mengawal proses pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih nanti. “Kami punya tanggungjawab pada saat pelantikan, semua akan di undang bahwa kami punya anak dari pusat kursi,” ujarnya.

Sementara itu, calon Bupati Puncak Jaya nomor urut 1, Yustus Wonda menyampaikan rasa syukur karena semua masyarakat masing-masing pendukung pasangan calon telah hadir berkumpul untuk menyaksikan proses perdamaian sekaligus ibadah perdamaian pengucapan syukur secara umum di lapangan monumen penampakan Roh Kudus yang sudah disaksikan bersama.

Ia menguatarakan, sebelum injil masuk di kabupaten Puncak Jaya akan tetapi setelah injil masuk sejak 53 tahun lalu tidak ada lagi perang antara suku maupun keluarga.

Namun setelah 20 tahun Pemerintahan RI membentuk kabupaten Puncak Jaya baru kali ini terjadi perang seperti yang sudah lalui beberapa waktu lalu, pasca pilkada.

Oleh karena itu, kata dia, perdamaian hari ini dilakukan secara resmi di publik maupun di masyarakat pendukung 1, 2, dan 3. “Secara adat perdamaian dengan diawali belah pohon doli, yang kemudian dilanjutkan bakar batu untuk laki-laki, bakar batu untuk perempuan dan hari puncak perdamaiannya,” ujar dia.

Pada kesempatan itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada Bupati Puncak Jaya Drs. Henock Ibo sebagai orang tua yang telah mengerti bagaimana keluhan masyarakat selama ini.
Apalagi Bupati selaku orang tua di kabupaten Puncak Jaya telah mengeluarkan uang untuk proses permdaian antara pasangan calon.

“Kalau belum keluarkan dana, mungkin kami belum selesai acara ini, karena ada dana kami ambil tindakan langsung masuk dengan pendukung kami, kita merendam mereka mengajak untuk ambil,” katanya.

Meski pihak korban tidak menerima, tapi pihaknya selaku calon bupati menyampaikan bahwa Pilkada bupati itu hanya 5 tahun dan bupati terpilih hanya satu. Jadi yang terpilih akan meneruskan program-program kami selaku bupati dan wakil bupati selama ini,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan Yustus, dirinya selaku anak daerah dan juga wakilnya sebagai anak daerah pasti akan ada di Puncak Jaya.

“Kami harap saudara kami yang tidak hadir dibalik gunung dapat menerima, mungkin lewat media maupun secara lisan dapat menerima itu, bahwa kami sudah damai,” harapnya.
Ditempat yang sama, calon bupati terpilih, Yuno Wonda mengharapkan agar perang yang terjadi merupakan pertama dan terakhir terjadi di Puncak Jaya.

Hal itu disampaikan lantaran perang pilkada belum pernah terjadi di kabupaten Puncak Jaya, sehingga perang yang terjadi selama ini membuat masyarakat trauma. “jadi saya minta agar perang pilkada merupakan pertama dan terakhir, tidak boleh lagi terjadi,” tekan dia.

Yunis mengemukakan, tahapan perdamaian banyak yang telah dilewati dan kini  pihaknya memohon maaf kepada keluarga korban.

“Mungkin dengan cara biaya sedikit akan kita lakukan. Tapi ini kembali kepada kami yang ada di Paslon masing-masing,” pungkasnya.

Yuni menyampaikan terimakasih kepada TNI/Polri dan Pemerintah yang bersama-sama menjaga dan berupaya melakukan proses perdamaian atas konflik pilkada yang terjadi selama ini.
Oleh karena itu, melalui acara yang sedang berlangsung ini maka semua proses yang terjadi antara kubu satu dengan dua, dua dengan tiga bisa bergandengan tangan dan bersatu bersama-sama membangun negeri yang dicintai rakyat Puncak Jaya.

Yuni Pun berharap agar kedepan terjadi rekonsiliasi secara baik structural, dengan semua elemen akan dilakukan untuk menuju kepada masyarakat damai.

“Ini acara perdamaian selsai, tidak boleh ada petak-petak kbuh ini, kubuh itu, tapi tidak boleh lagi ada pernyatan itu, karena semua bisa menyaksikan acara ini berlangsung dengan lancer,” tutur dia.

Ia menambahkan, disetiap kabupaten bupati Puncak Jaya hanya satu sehingga terpilihnya kami sebagai Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya maka masyarakat di 26 distrik dan 302 kampung itu kami punya masyarakat sekarang.

“Jadi sebagai orang adat, sebagai pemimpin daerah kami tidak akan pernah memilih warna suku, dll, tapi kita jaga persatuan dan kesatuan,” tutupnya. (nius/don)