
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Implementasi QRIS merupakan salah satu instrumen yang dapat mendukung percepatan digitalisasi dan elektronifikasi transaksi di wilayah Papua.
Kepala KPw BI Papua, Warsono, mengungkapkan bahwa jumlah pengguna dan merchant QRIS menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan perluasan akseptasi QRIS pada sektor perdagangan, UMKM, pasar tradisional, rumah makan, dan layanan publik.
Secara umum, wilayah dengan tingkat adopsi QRIS tertinggi berada pada daerah yang memiliki aktivitas ekonomi dan kepadatan penduduk yang lebih tinggi, yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, Kabupaten Nabire, dan Kabupaten Merauke.
Sebaliknya, wilayah pegunungan dan daerah dengan akses infrastruktur telekomunikasi yang masih terbatas, seperti beberapa kabupaten di Papua Pegunungan, umumnya menunjukkan tingkat adopsi yang relatif lebih rendah.
Gloria Taime, salah seorang pelaku UMKM di kawasan BTN Puskopad Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, mengaku senang dengan adanya QRIS.
Menurutnya, QRIS menjadi alat pembayaran yang mudah dalam melayani konsumen yang membeli dagangannya.
Selain dipasarkan melalui media sosial Facebook dan Instagram, Gloria juga menjual sendiri aneka panganan hasil olahannya.Soal penggunaan QRIS, ia merasa sangat terbantu karena lebih praktis dan tidak perlu repot mencari uang kembalian.
“Ya, kami pakai juga QRIS. Nanti uangnya langsung masuk ke rekening pribadi,” ungkapnya saat ditemui awak media di Sentani, Kamis (9/7/2026).
Ia mengakui, setelah menggunakan QRIS, omzet usahanya semakin meningkat. Ia pun tidak lagi khawatir dengan transaksi daring (online), karena sudah pernah mengikuti sosialisasi tentang pemanfaatan media daring, baik untuk promosi maupun bertransaksi.
Kemudahan bertransaksi tersebut tidak hanya dirasakan saat melayani konsumen, tetapi juga saat berbelanja bahan baku. Saat ini, hampir semua toko ataupun kios tempatnya membeli bahan kue dan peralatan sudah menyediakan QRIS sebagai metode pembayaran.
Gloria juga menambahkan, risiko menerima uang lusuh atau sobek yang dulunya sering terjadi, kini berkurang jauh.
Hal senada diungkapkan oleh Dadang Suyama, seorang pedagang ayam potong di Pasar Induk Regional Youtefa, Abepura, Kota Jayapura. “Enak, Mas, pakai QRIS enggak ribet,” ungkap Dadang.
Dalam aktivitas berdagang sehari-hari, tangan Dadang kerap bersentuhan dengan air dan darah ayam. Oleh karena itu, uang kertas dari pembeli akan sangat mudah kotor dan basah jika konsumen membayar secara tunai (cash).
Dadang pun kini turut menyuplai kebutuhan daging ayam dan telur ayam ras di Kota Jayapura yang diambil dari Surabaya. Bahkan ia juga sering mendapat pesanan untuk dikirim ke wilayah Papua Pegunungan, terutama ke Wamena, Jayawijaya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, media untuk menampilkan QRIS kini semakin beragam. Selain menggunakan mesin EDC yang banyak dipakai di supermarket, lembaran kertas, dan plakat akrilik, saat ini juga sudah tersedia mesin portabel soundbox yang terhubung langsung dengan akun merchant.[yat]










