
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Anggota Komisi I DPR Papua, bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa meminta kepada Negara agar mencari solusi panjang untuk mengakhiri konflik di Papua, sehingga tidak lagi terjadi pembunuhan di bumi Cenderawasih.
Sampai saat ini kejadian di Mbua, kabupaten Nduga sudah ramai di media baik media sosial, media lokal hingga media Nasional. Bahkan petinggi Negara, Presiden, Menko Polhukam dan semua pihak sudah mengeluarkan statmen.
Namun Laurenzus Kadepa mengakui bahwa dirinya selaku wakil Rakyat Papua belum mengetahui informasi secara akurat terhadap pembunuhan di kabupaten Nduga. “Saya belum bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar, serta motif dibalik kasus pembunuhan itu,” ungkapnya.
Hal itu disampaikan Laurenzus Kadepa, mengingat pemberitaan yang simpang siur jumlah korban meninggal di kabupaten Nduga. “Ada pemberitaan bahwa 31 orang meninggal dunia dan ada juga informasi 24 orang, dan lain lagi 19 orang. Saya tidak tau mana yang betul terhadap data informasi,” katanyan
Kendati demikian, pihaknya secara peribadi dan selaku anggota DPR Papua menyampaikan belasungkawa duka yang mendalam kepada keluarga korban. “Satu orang dibunuh sangat berharga karena Tuhan tidak mengijinkan manusia membunuh, sehingga bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan yang mahakuasa,” ujarnya.
Kadepa berpesan, kejadian di kabupaten Nduga bukan kejadian hal yang baru akan tetapi kejadian terjadi sejak Papua resmi melalui Pepera. Dimana sejak itu banyak banyak peristiwa terjadi hingga mengakibatkan banyak korban, baik aparat TNI/Polri maupun warga sipil.
Untuk menyikapi itu, Kadepa meminta kepada Negara untuk melihat kembali kenapa sampai saat ini terjadi konflik. “Bagi saya harus ada solusi panjang untuk mengakhiri konflik jangka panjang. Ini yang penting. Jangan kejadian ini pemerintah hanya mengambil solusi sesaat karena pilpres, dan Pileg atau hanya mencari popularitas,” katanya .
Ia menegaskan, kini saat negara harus bertindak dan jangan hanya melakukan pengejaran terhadap pelaku tapi bagaimana solusi agar melalui nduga mengakhiri konflik berdarah yang sudah terjadi. Sebab jika itu dilakukan, maka konflik berdarah di Papua akan terus terjadi.
Dimana menurutnya, sebagian besar hasil Pepera orang Papua ada yang menerima dan ada juga yang belum menerima. “Ada dua kelompok yang terjadi sejak terjadi Pepera, yang mana kelompok NKRI harga mati dari petinggi NKRI dan kelompok harga mati yang didorong tidak puas dengan hasil pepera,” tukasnya. [loy]










