25 Dokter Umum Lulusan Uncen ke XXI Dilantik

4800

 “Usai pengambilan sumpah/janji dokter umum ini, saya berencana menjadi seorang pengajar terutama kepada adik-adik di Fakultas kedokteran,” kata Dr. Michael B.E.H Loi usai pengambil Sumpah/janji di Auditorium Uncen Jayapura-Papua.

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Universitas Cenderawasih Jayapura mengambil sumpah/janji terhadap 25 orang mahasiswa fakultas kedokteran yang telah menyelesaikan pendidikan profesi dokter baru di Auditorium Uncen, Senin (23/4/2018).

Rektor Uncen Jayapura, Dr. Ir Apollo Safanto. ST.MT, mengatakan, proses pelantikan dan pengambilan sumpah/janji bagi mahasiswa kedokteran Uncen yang lulus pendidikan profesi dokter 4 kali dalam satu tahun akademik.

“Jadi, dalam 1 tahun kami Uncen 4 kali melantik alumni fakultas kedokteran yang lulusan profesi dokter dan tadi kami  lantik 25 dokter baru tahun 2018,” kata Rektor Uncen kepada PapuaSatu.com di Jayapura, Senin (23/4/2018).

Di singgung berapa kuota mahasiswa kedokteran Uncen yang dinyatakan lulus profesi, kata rector, saat ini pihak Uncen Jayapura sedang menghabiskan stok kuota mahasiswa kedokteran yang di terima tahun – tahun sebelumnya.

Dikatakannya, sejak menjabat sebagai rektor pihaknya sudah menetapkan kuota penerimaan fakultas kedokteran yaitu 80 persen OAP dan 20 non Papua.

“Sekarang ini kita sedang habiskan stok yang 8 tahun lalu masuk pada rektor sebelumnya, jadi warna lulusan mahasiswa kedokteran OAP dan non Papua akan terlihat 4 tahun setelah saya menjabat,” ujar Rektor.

Dijelaskan, selama melaksanakan program pendidikan profesi dokter muda (Coas) di rumah sakit sudah ada Pemerintah Kabupaten di pedalaman Papua yang mengikat komitmen bersama alumni mahasiswa kedokteran Uncen.

“Bila nanti mereka lulus langsung di rekrut oleh Pemerintah daerah untuk melayani di Kabupaten/Kota di Provinsi Papua. Tapi tentu dokter – dokter yang bersangkutan juga apakah mereka mau terima tawaran dari Pemerintah daerah atau tidak,” jelasnya.

Terlepas dari itu Kementerian Kesehatan bahwa setelah semua mahasiswa program profesi dokter di seluruh Indonesia dari Coast dan mereka dinyatakan lulus menjadi dokter maka mereka di tempatkan di daerah pedalaman selama 1 tahun itu wajib dilaksanakan.

“Mereka akan melayani di Rumah sakit atau Puskesmas di Kabupaten/Kota se – Provinsi Papua, setelah 1 tahun baru mereka boleh memilih untuk tetap bertahan atau melamar sebagai dokter di rumah sakit tertentu bekerja di Pemerintah daerah itu mereka boleh bebas memilih,” katanya.

Sementara itu, Dr. Michael B.E.H Loi yang baru saja dilantik menyampaikan terima kasih karena selama enam tahun menimba ilmu kini sudah menyandang gelar Dokter Umum (Dr).

“Saya berterimakasih kepada Tuhan dan kepada kedua orang tua saya, karena saya bisa melewati pendidikan paling lama 6 tahun masing-masing, 4 tahun di Fakultas dan 2 tahun mahasiswa menjalani profesi sebagai dokter,” kata Dr Michael Loi kepada PapuaSatu.com usai pengambilan sumpah/janji.

Mika panggilan akrabnya itu mengakui bahwa dalam mengikuti pendidikan butuh perjuangan untuk menjadi seorang dokter. Meski pendidikan yang dihadapi selama enam tahun berjalan sangat berat namun ternyata membuahkan hasil, apalagi yang dihadapi adalah manusia.

“Karena manusia yang kita hadapi maka kita perlu pendidikan yang matang dan pembelajaran yang komprehensif sehingga mahasiswa dapat menangani pasien dengan baik dan benar,” ujarnya.

Menurut Mika, banyak  kendala yang dihadapi ketika bertemu dengan pasien karena penyakit yang ditemukan bermacam-macam sehingga membutuhkan pembelajaran ekstra.

“Banyak penyakit yang saya temukan selama menjalani pendidikan Coas tapi setelah saya pelajari ternyata ada penyakit lain dan saya bisa mengetahui obat untuk bisa menyembuhkan pasien,”  paparnya.

Setelah pelantikan dan pengambilan sumpah/janji, aku Mika, masih ada program bagi dokter yang baru di lantik namanya Intrensip selama satu tahun.

“Program Intrensif 8 bulan di rumah sakit dan 4 bulan di puskesmas jadi genap 1 tahun sesudah kita memperoleh hak untuk membuka praktek sendiri bentuk surat tanda registrasi (STR) dari IDI Pusat,” kata Mika.

Dikatakan, setelah masa intrensif dirinya ingin menjadi tenaga pengajar atau praktisi kesehatan. “Bagi saya setelah dilantik kalau saya bisa menjangkau semua pasti saya bisa karena saya rindu mengajar adik – adik saya di fakultas kedokteran,” ujarnya.

Dijelaskan, proses pendidikan dokter ini tidaklah mudah. “Kami yang dilantik pada saat ini melalui proses yang cukup panjang hampir 6 sampai 9 tahun kuliah di kampus dan 2 tahun kami menjalani pendidikan profesi dokter,” katanya.

Melalui pelantikan ini kesan yang kami dapat memang perjuangan pendidikan kedokteran tidak mudah sangat berat dan melalui pendidikan ini kita betul – betul di persiapkan diri kedepan, karena yang kita hadapi itu adalah manusia kita menghadapi nyawa sehingga pendidikan yang matang, perlu pembelajaran yang komperhensif sehingga kita bisa menangani pasien lebih baik.

“Intinya kalau masuk di pendidikan Coas (dokter muda, red) itu diperlukan determinasi, ketekunan. Kalau kita masuk coast hanya sekedar iseng – iseng lebih baik mundur karena banyak dokter muda yang tidak lulus karena factor yang menentukan kelulusan coast itu determinasi, ketekunan dan kerajinan,” jelasnya. [piet/loy]