Kepolisian Diminta Tindak Tegas Penyebar Hoax dan Fitnah

488

JAYAPURA – Papuasatu.com- Aparat kepolisian harus berani untuk menindak dengan tegas dan keras para pelaku penyebar berita palsu (Hoax) dan juga fitnah atau ujaran kebencian di media sosial (Medsos) seperti facebook (fb).

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, mengharapkan pihak kepolisian bisa menindaklanjuti hal itu demi menjaga ketenangan masyarakat di daerah ini. Sebab, menurutnya, UU IT sudah ada dan sudah harus ditindak oleh pihak kepolisian.

“Hoax dapat memperkeruh suasana dan mengganggu ketenangan masyarakat, serta hal-hal yang sifatnya menebar kebencian atau menebar kebohongan itu segera ditindak,” kata Bupati Mathius kepada wartawan di Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (29/9).

Bupati Mathius mengatakan, Undang-Undang yang mengatur mengenai informasi dan komunikasi telah memiliki ata, tentang bagaimana beradab dalam berkomunikasi di dunia digital.

“Ya, ada aturan mengenai informasi dan komunikasi, ITE, ada Undang-Undangnya itu. Saya pikir pihak kepolisian punya tugas untuk menertibkan dan juga menjaga suasana tetap aman serta damai di tengah masyarakat,” tukasnya.

Dikatakannya, banyak orang-orang  senangnya memang membuat rusak hak pribadi orang dan menciptakan kerusuhan. Apalagi kerusuhan ini biasa timbul dari orang-orang yang suka menebar kebencian dan kebohongan.

Sehingga dengan dasar aturan itulah aparat penegak hukum bisa melakukan penindakan. Jadi, mau tunggu apalagi. Nanti kalau terjadi sesuatu yang lebih parah lagi, baru kita mengurusnya setengah mati. Hal-hal ini yang harus ditindak segera oleh pihak kepolisian,” katanya.

Iapun tak mau berkmentar banyak karena berita-berita yang resmi itu dari media-media yang resmi, yakni memiliki wartawan, ada medianya dan ada ijinnya. “Kalau berita yang tidak resmi, ya Polisi harus tindaklah dan tidak bisa dibiarkan begitu. Inikan meresahkan banyak orang,” mintanya.

“Apakah sampai ada kerusuhan dulu baru mau ditindak. Inikan cara berpikir yang kadang-kadang juga kita tidak mengerti aturan-aturan seperti itu, “ pungkas dia. (piet/nius)