Sepuluh Ribu Jemaat Menghadiri Peresmian Papua Rumah Doa Segala Bangsa

SENTANI, PapuaSatu.com – Sepuluh Ribu jemaat menghadiri acara Peresmian ‘Papua Rumah Doa Segala Bangsa’ yang digelar di Jalan Masuk Kompleks STAKIN, Depan Yonif 751/BS, Sentani, Kabupaten Jayapura, Minggu (3/7/2022).

“Total jemaat yang hadir kurang lebih ada sekitar sepuluh ribu orang, puji Tuhan untuk konsumsi semua jemaat bisa tercukupi bahkan lebih, dalam hal ini kami tidak membeda-bedakan organisasi lain untuk hadir pada acara ini, yang hadir tidak hanya khusus GIDI saja,” kata Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya yang juga merupakan Ketua Panitia Rumah Doa Segala Bangsa, Deinas Geley, S.Sos., M.Si.

Geley ungkapkan, peletakan batu pertama dan pembangunan ‘Papua Rumah Doa Segala Bangsa’ ini telah dilakukan sejak tanggal 3 Juli 2020 sehingga pada peresmian telah genap 2 tahun.

Hadirnya ‘Papua Rumah Doa Segala Bangsa’ ini dengan tujuan agar semua umat bisa datang untuk doakan Papua. “Rumah doa ini bukan hanya milik organisasi tertentu saja tetapi ini milik semua, entah Muslim, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Advent, Baptis semua datang untuk doakan Papua, karena rumah doa segala bangsa ini didunia hanya ada di Yerusalem dan satu disini di Papua jadi dari ujung bumi ke ujung bumi,” ungkap Geley.

Makna dari membangun rumah doa segala bangsa ini, Geley katakan untuk menjadikan umat Tuhan agar damai dan berlutut berdoa agar didoakan umat didunia.

“Ini semua bukan hanya untuk kita di Papua saja kalau kita doakan dari orang Papua sampai keujung dunia untuk meyelamatkan jiwa-jiwa seperti visi misinya, ini dibangun khusus untuk rumah doa segala bangsa,” tuturnya.

Dijelaskan, sejak masuknya Injil di Mansiman, Papua belum memiliki rumah doa segala bangsa, walaupun sudah lebih dari 1 abad.

“Injil masuk di Mansinam sudah 160 tahun. Pdt. Lipiyus Biniluk, M.TH adalah anak dari Pdt. Alm. Gembiri Biniluk, ketika injil masuk di daerah pendalaman sekitar tahun 1960 didaerah Yatenok gunung Bogo’nuk disitulah Pdt. Alm. Gembiri Biniluk membangun rumah doa di bukit, setelah itu bangun lagi 60 rumah doa diatas gunung Kabupaten Tolikara. Setelah orang tua meninggal maka dilanjutkan oleh anaknya yaitu Pdt. Lipiyus inilah dia bangun rumah doa segala bangsa,” jelas Geley.

Saat Deinas Geley membacakan laporan panitia anggaran atas bantuan berbagai pihak untuk pembangunan terkumpul dana sejumlah Rp 3 Miliar lebih. Rinciannya adalah dari bantuan Alm. Wakil Gubernur Provinsi Papua, Klemen Tinal membantu Rp. 1 Miliar, Pemerintah Daerah Tolikara membantu Rp 1 Miliar, Bupati Willem Wandik membantu Rp 500 Juta kemudian mantan Bupati Kabupaten Nduga membantu Rp 500 Juta.

“Tetapi lebih dari itu Pdt. Lipiyus Biniluk bersama isterinya mereka menjual tanah, menjual babi lalu uang itu juga mereka untuk membangun rumah doa segala bangsa,” ucapnya.

Dalam sejarah ini seluruh para sinode-sinode para petinggi-petinggi agama yang hadir mulai dari Katolik, Kristen Protestan, Advent, Baptis dan Perwakilan Gereja lain semua hadir pada peresmian ‘Papua Rumah Doa Segala Bangsa’.

“Mereka semua deklarasi untuk tanggal 5 Juli 2022 ditetapkan untuk menjadi agenda nasional, karena selama ini di Indonesia belum ada agenda doa nasional, jadi setiap tahun setiap tanggal 5 Juli nantinya akan merayakan doa nasional dan pada hari ini ditandatangani di Prasasti dan deklarasi,” beber Geley.

Pendeta dari Yerusalem turut mengucapkan selamat melalui virtual dan sangat bersyukur bahwa rumah doa segala bangsa yang ada di Yerusalem sekarang ada di Papua.

Turut hadir dalam acara ini Perwakilan Gubernur Provinsi Papua, Pj. Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw, M.Si, Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Papua, Perwakilan dari TNI POLRI, Perwakilan Pemerintah Pusat, Anggota FORKOPIMDA Provinsi Papua, Para Pimpinan SKPD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Papua, dan juga Tokoh-tokoh Adat. [red]