
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Selain dari tokoh adat dan tokoh politik, perencanaan Daerah Otonomi Baru (DOB) pun mulai menuai komentar oleh tokoh masyarakat Papua yang juga sekaligus menjabat sebagai Dosen Prodi Agama Kristen di Universitas Cenderawasih, Pdt.Freddy H.Toam S.Th., M.Si.
Menurutnya, perencanaan DOB ini harus dilihat dari sudut pandang terang injil agar tidak ada penolakan-penolakan. “Dalam Alkitab Yesaya 40 : 1-11 itu dikatakan oleh Tuhan langsung, jadi tidak ada alasan untuk kita menolak DOB, karena Tuhan ingin kita melihat pemekaran ini dari sudut pandang terang Injil,” katanya, Sabtu (26/3/22).
Firman Tuhan dalam Yesaya 40 : 1-11 dengan perikop “Hiburkanlah, Hiburkanlah umat-Ku, serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir”, lalu pada ayat 3:4a berbunyi, “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan;”.
“Dan diayat ke 5 berbunyi “Maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama”. Ayat-ayat tersebut dinilai mengandung pesan Tuhan agar umat terus terlibat dalam proses pembangunan untuk dapat melihat kemuliaan Tuhan,” ucapnya.
Pdt. Freddy menilai, rencana DOB merupakan rencana Tuhan, maka sudah seharusnya didukung, bukan ditolak karena Tuhan sedang berperkara. “Saya katakan, bagi yang menolak harap buka kembali Alkitab,” ujar Pdt. Freddy.
Ada beberapa tokoh-tokoh agama yang menolak rencana DOB dengan alasan hal tersebut akan semakin menyisigkan keberadaan Orang Asli Papua (OAP), namun hal itu dinilai dengan sudut pandang yang sempit menurut Pdt. Freddy.
“Para pendeta harus kembali pada pemahaman tentang hukum kasih dan perintah penginjilan yang disampaikan Yesus bersifat universal. Jadi jangan ada sekat pemisah, baik suku, bangsa, ras, warna kulit, jenis rambut, maupun bahasa. Karena Yesus tidak membeda-bedakan orang dan Yesus mengajarkan untuk mendoakan serta mengasihi musuh,” terang Pdt. Freddy.
Ia juga berharap OAP dapat berkontribusi lebih dalam proses DOB terlebih lagi adanya perlindungan dalam UU Otsus. “Dulu sebelum diterapkan Otsus Papua, masyarakat Papua dapat hidup berdampingan tanpa membedakan asal suku. Tetapi sekarang ada Otsus, harusnya mampu berperan lebih, jangan ada ketergantungan,” harapnya.
Diakui, meskipun dulu tidak ada Otsus, tetapi Papua dapat bersaing dengan daerah dan suku lain, maka Otsus harus disikapi dengan baik dan berdasarkan pada firman Tuhan. “Tuhan tidak membedakan ciptaannya, suku ini suku itu, rambut kulit dan lain sebagainya, Tuhan itu memiliki sifat Universal. Jadi kalau Tuhan demikian, mengapa kita ada sekat-sekat. Karena manusia diciptakan sama dihadapan Tuhan,” tandas Pdt. Freddy.
Ia juga ungkapkan, seluruh dinamika yang terjadi di Papua pun harusnya sejalan dengan upaya untuk mendatangkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Karena Tuhan inginkan Papua berperkara menjadi maju dan tidak menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang tinggal dalam keterbelakangan.
“Hal ini merupakan stigma yang sudah lama diderita oleh orang-orang di Tanah Papua, maka dengan otonomi ini sekarang, kita balikkan stigma tersebut. Ibarat Rumah, Papua tidak boleh jadi bagian belakang, melainkan serambi atau bagian depan dari rumah Republik Indonesia,” ungkapnya.
Papua juga berbatasan dengan Samudera Pasifik yang di seberangnya ada Amerika Serikat, Australia dan Jepang. Secara geografis, Papua harus menjadi etalase dari NKRI.
“Wajah Indonesia ini harus dapat dilihat dari Papua, dan saya bersyukur sekali bahwa semua suku bangsa ada di Papua,” tukas Pdt. Freddy. [ayu]










